Dunia Setelah Terjaga


Cerpen Kim Al Ghozali AM



BEBERAPA saat sebelum bangun, aku hanya melihat ada tabir hitam di depan mataku, kadang ada kelebat lembut dan menampakkan manik-manik cahaya. Lalu, setelah itu pelan-pelan mataku terbuka. Aku benar-benar tidak merasakan sesuatu, hanya seperti baru bangun dari sebuah tidur panjang. Urat-urat di tubuhku terasa kaku, badanku lemas, tapi selebihnya aku tak merasakan sakit apa-apa.

Aku pandangi sekelilingku, semua orang yang ada di ruangan matanya tertuju kepadaku. Kemudian kupandangi tubuhku sendiri, mulai dari lengan, telapak tangan, kaki, dan semuanya. Aku merasakan bagian-bagian tubuhku telah berubah. Rambutku tumbuh sangat panjang dan acak-acakan. Kukuku panjang dan ujungnya hitam-kotor. Kulitku sudah berbulu lebat dan menampakkan daging yang matang. Aku tampak lebih besar daripada sebelumnya. Aku heran dengan segala yang telah terjadi kepadaku.

Mengapa aku di sini?

“Kau sudah sadar, Nak,” ucap seorang perempuan sambil memelukku dan menangis. Kemudian setelah aku ingat-ingat ternyata ia adalah ibuku. Rambutnya mulai memutih, wajahnya tampak keriput, tangannya gemetar ketika menyentuh tanganku dan ia kelihatan sangat lelah. 

Kulihat orang-orang yang duduk, berdiri, dan berlalu lalang kini sudah mulai sibuk sendiri-sendiri. Ada yang menelepon dan terdengar ucapan, “sudah sembuh”. Ada yang mulai membawa nampan berisi makanan lalu dihidangkan ke orang-orang sekelilingku. Ada pula yang semula berada di ambang pintu kini mulai mendekat dan duduk di ranjang di dekat kakiku, memijat-mijat betisku sambil berseru: Syukurlah!

Aku menjadi semakin tidak mengerti apa sesungguhnya yang telah terjadi. Aku benar-benar tidak punya ingatan apa-apa selain masa lalu yang begitu jauh—yang kini mulai terbayang—tentang masa kanak-kanak atau masa remaja sampai akhir semester kelas tiga SMP. Lalu selebihnya hitam, gelap, dan seperti ada tabir tebal yang menutupi ingatan.

Seorang lelaki jangkung, berjenggot, rambutnya mulai memutih, dan di dahinya ada bekas luka, mendekat dan memegangi tanganku, matanya tampak berkaca-kaca tapi tak mengeluarkan sepatah kata. Meski sudah sedikit berubah tapi aku masih mengenali tanda luka itu. Ia pasti ayahku. “Ayah,” bisikku pelan. Dan ia semakin erat menggenggam tanganku, seperti seorang yang takut kehilangan. “Apa sebenarnya yang telah terjadi padaku?” Ia terdiam, seperti enggan memberikan jawaban.

“Kamu istirahat saja. Ibumu sedang ke dapur membuatkan bubur untukmu,” ucapnya dengan nada penuh kasih sayang.

Aku semakin heran. Orang-orang di sekelilingku hanya kasak-kusuk dan tak satu pun dari mereka yang kukenali. Pemandangan di luar yang terlihat dari jendela juga terasa berbeda, tak seperti yang biasa aku lihat. Begitu pun kamar yang kutempati, sama sekali asing.

“Aku berada di mana?” tanyaku lagi.

“Kamu di sini, di rumahmu sendiri,” jawab ayahku sambil menatapku penuh prihatin.

“Susi ke mana? Suruh dia ke sini, aku kangen,” pintaku, karena sejak tadi aku tak melihat adikku ada di antara kerumunan.

“Adikmu sudah tak ada,” ucapnya dengan suara yang berat.

“Tak ada? Maksudnya?

“Semua sudah banyak yang berubah. Kamu istirahat saja, ya.” Lalu ia beranjak meninggalkanku, menuju kerumunan orang-orang di luar kamar.

Sedangkan aku masih terus telentang di atas kasur dengan selimut yang tampak masih baru, dua bantal di bawah kepalaku, satu di bawah kakiku dan aku diliputi oleh keasingan. Hanya duga dan duga yang mulai bergerilya di dalam kepalaku. Aku ingin beranjak dari ranjang tapi tubuhku sangat lemas, bahkan untuk mengangkatkan tangan pun tak sepenuhnya mampu. Betapa lemah tubuhku. Ada apa ini? Aku mencoba mengingat-ingat lagi sepenuh daya tentang segala yang terjadi kepadaku sampai akhirnya aku tergeletak seperti sekarang. Tapi lagi-lagi ada tabir gelap yang menghalangi ingatan.

Rohman, Ridwan, dan Yakub, nama-nama temanku yang kini mulai kuingat. Mereka kawan di rumah sekaligus kawan di sekolah. Aku sekarang ingat sekolahku, ingat pelajaran-pelajaran yang kutinggalkan atau sepeda yang selalu menemaniku ke mana-mana. Tapi lebih dari itu tidak aku ingat—dan masih berusaha mengingat-ingat. Kini aku mencoba menerka-nerka juga: apakah aku sebelumnya sudah mati? Atau selama ini aku menjadi orang gila? Atau sekadar tidur panjang, sangat panjang dan tak merasakan mimpi apa-apa? Bisa jadi, gumamku, tapi tak sepenuhnya yakin.

Seseorang masuk ke kamar, lelaki lebih tua dari ayahku. Memakai sarung dan kemeja kotak-kotak. Duduk di samping kepalaku, kemudian menaruhkan telapak tangannya di dahiku. Tangannya terasa sangat dingin, dan dengan cepat dingin itu terasa di dahiku, merambat ke leher, ke lengan, ke dada, dan ke seluruh tubuhku.

“Kau masih ingat siapa aku?” tanyanya sambil tersenyum. Aku menggeleng lemah.

“Aku Hamid Muhammad.”

Ternyata ia dari pondok di sebelah rumahku. Saudara kiai pengasuh pondok tempatku belajar mengaji. Aku mulai ingat, ia dari dulu memang sebagai kiai-tabib, menyembuhkan orang yang sakit, orang kena guna-guna, orang kerasukan setan, bahkan orang gila. Lambat laun dugaanku pada diri sendiri kini semakin menjadi-jadi. Berarti aku salah satu pasiennya? Berarti aku? Tidak! Tidak mungkin. Aku baik-baik saja. Aku hanya tidur panjang, sangat panjang tanpa menemui mimpi sama sekali.

“Saya kenapa Kiai?”
“Kamu sakit,” ucapannya masih selalu disertai.
“Sakit apa?”
“Tidak apa-apa. Jangan khawatir sebentar lagi sembuh.” Kemudian ia berdiri mendapati ayahku di sisi jendela, dan pamit pulang.

Aku tak sanggup lagi untuk berusaha menerobos tabir gelap yang menghalangi ingatanku tentang sesuatu yang terjadi sebelum aku terjaga seperti sekarang. Kini aku hanya ingin mendengarkan, menyimak cerita orang-orang mengenai diriku. Tapi mereka semua bisu. Ada sesuatu yang ditahan, yang disembunyikan dariku. Seakan tidak rela jika aku mengetahuinya. Aku jadi ingin segera beranjak dari ranjang, menyaksikan wajahku di cermin, melihat pekarangan rumah yang sama sekali asing ini, dan ingin menemui Rohman, Ridwan, Yakub, sahabatku itu. Aku yakin mereka akan menceritakan yang sesungguhnya.

Terlihat dari jendela kamar, daun-daun mangga tampak berkilau disinari matahari barat. Buahnya yang lebat bergelantungan, sebagian sudah menguning. Sesekali tampak bajing melompat dari satu ranting ke lain ranting. Rupa-rupanya sudah musim mangga, batinku. Mungkin sekarang adalah bulan puasa atau menjelang puasa. Setidaknya dari dulu itu yang kutandai: ketika musim mangga sudah mencapai puncaknya, maka sebentar lagi puasa.

Suasana di luar kamar sudah sepi. Satu persatu orang beranjak pulang. Dan gedung ini, rumah ini ternyata benar-benar sepi, padahal waktu itu selalu saja ada teriakan-teriakan nakal Susi, atau nyanyi-nyanyi saja di ruang tamu, di dapur, dan kamar tidur. Juga, sejak terjaga tadi sampai sekarang belum sekalipun kudengar gemuruh kereta api lewat. Bukankah rumahku tidak jauh dari perlintasan kereta api?

Kini benar-benar asing dan aku tak mengerti.

Perempuan yang rambutnya sudah mulai uban itu masuk ke kamar. Ya, ibuku. Membawa sepiring bubur dan duduk di sampingku. “Makanlah,” ucapnya. “Kamu harus pulih dan banyak makan biar kuat lagi.” Perempuan tua itu menyuapiku, pelan dan hati-hati.

“Apa sebenarnya yang telah terjadi padaku?” pertanyaan itu kulontarkan lagi.
“Kamu baru pulang dari perjalanan jauh.”
“Perjalanan jauh?” aku mendelik—memaksa. “Adikku ke mana?”

Setelah pertanyaan itu kulihat dengan jelas air muka ibu berubah tiba-tiba. Ibuku menangis, menangis sesenggukan lalu sambil memelukku. Dadaku sesak rasanya melihat perempuan itu begitu bersedih.

“Susi sudah pergi. Beberapa waktu setelah kepergianmu.”

Aku sedih mendengarnya. Tapi aku juga masih bingung. Kepergianku, kepergian Susi, sesuatu yang teka-teki bagiku. Sedangkan ibu tetap tidak mau berterus terang.  

***

Seperti yang kuduga sebelumnya, aku tak akan mungkin menjumpai lagi diriku yang dulu. Jamal kecil dengan wajah yang masih bersih, kulit mukanya yang begitu muda. Ketika kulihat wajahku di cermin yang menggantung di depan kamar, tampaklah aku sudah begitu tua jika dibandingkan dengan keadaan dulu yang masih kuingat. Mungkin sepuluh atau lima belas tahun selisihnya dengan keadaan itu—perkiraanku. Itu terlihat dari raut wajahku. Kantung mataku sudah mulai tampak. Meski tak tumbuh kumis tapi aku merasakan wajahku telah benar-benar berubah. Benarkah aku tidur selama itu, sepuluh sampai lima belas tahun?

Hari masih sangat pagi. Semalam aku benar-benar tidak bisa tidur, bergelut dengan diri sendiri. Pertanyaan datang silih berganti dalam kepalaku. Ada seratus benang kusut di benak yang tak bisa kuurai. Di luar, kulihat bukan lagi pekarangan yang kukenal. Daerah yang sama sekali asing. Aku mencoba menebak-nebak kembali. Selama aku tidur tentu bapak telah pindah ke sini, ke rumah baru ini.

Dan aku ingin sekali pergi dari sini, menemui masa laluku, menyelesaikan berbagai hal yang belum sempat kuselesaikan di sana. Tapi waktu sudah jauh lewat. Aku ingin keluar rumah, ingin tahu keadaan yang sebenarnya. Namun rasanya tubuhku masih saja sulit diajak beranjak ke mana-mana.

Di dinding kulihat ada fotoku bersama Susi dengan ekspresi begitu gembira. Foto itu diambil ketika aku naik kelas tiga SMP dan dia baru lulus SD. Rasanya baru kemarin semua itu terjadi, tapi ketika terbangun dari tidur semua telah berubah. Ibu dan Ayah sudah tampak sangat tua, Susi tak ada, aku menjadi tidak mengenal orang-orang di sekelilingku, dan lebih-lebih lagi tidak mengenal diriku sendiri. Aku merasa sebagai orang yang terlahir kembali, hanya, masih membawa beban dan kenangan masa lewat yang pernah kujalani.

***

Menurut beberapa saksi mata, saat itu aku ada di pasar kota, masih mengenakan segaram sekolah. Hari menjelang sore dan aku duduk-duduk saja di emperan pasar. Menerawang kosong, juga sesekali menampakkan kebingungan. Sampai isya tiba, orang tuaku masih tidak menghiraukan aku tak pulang. Mungkin masih mampir di tempat temannya, begitu pikir mereka, karena aku sudah terbiasa tidak langsung pulang ke rumah sepulang dari sekolah—tapi tidak pernah menginap di rumah teman kecuali memang meminta izin dulu pada orang tua. Setelah larut malam orang tuaku mulai bingung, namun belum mengambil tindakan apa-apa. Baru keesokan harinya mereka menyatakan aku hilang, dicarilah ke pasar tempat terakhir kali aku dilihat oleh saksi mata itu, namun ternyata sudah tidak ada. Tidak ada satu pun orang yang tahu aku beranjak ke mana.

Sehari, dua hari, aku belum pulang juga. Merekaorang tuaku, kerabat, tetangga, dan teman-teman dekatku—mulai beraksi, menyebar ke mana-mana, ke rumah teman-temanku, ke sekolah, ke semua tempat tinggal saudara dan kerabatku di dalam dan luar kota, tapi tetap nihil. Satu minggu, dua minggu aku belum juga pulang. Positif aku dinyatakan sebagai anak yang sudah benar-benar hilang. Pengumuman tertulis disebarkan ke mana-mana, ditempelkan di tembok-tembok kota, di tiang listrik, di pasar-pasar, dan di perempatan. Semua upaya telah dilakukan oleh orang tua dan kerabat-kerabatku. Ke dukun atau ahli spiritual pun telah dilakukan. Aku dicari ke arah barat, itu mengikuti petunjuk Mbah Busiri, dukun terkenal di tempatku. Wilayah barat kini menjadi sasaran penyirisan, setiap pasar, tempat-tempat ramai, atau masjid telah mereka datangi untuk mencariku. Begitu terus-menerus sampai berbulan-bulan, hingga pencarian sampai kota paling barat di provinsi tempat aku tinggal. Orang tuaku mulai lelah mencariku, sudah tidak ada biaya lagi untuk pergi ke mana-mana. Akhirnya hanya bisa pasrah dan pasrah. Ibu setiap malam menangismembayangkan nasib anaknya. Setiap selasai salat aku terus didoakan, dipanggilnya pulang. Adikku terus uring-uringan dan sedih, merindukan kakaknya. Ayahku pun sudah habis berpikir untuk mencari jalan.

Setahun, dua tahun, empat tahun mereka kini mulai menjadi terbiasa atas ketidakhadiranku. Sesekali terlupa, sesekali hadir dalam mimpi Ibu dan terbayang kembali. Terkadang juga menerima laporan dari orang yang baru pulang dari merantau di Jakarta bahwa pernah sekilas melihat orang yang mirip denganku. Laporan lainnya lagi, aku menjadi penjual bakso keliling di Bandung. Saksi mata pernah mengajakku berbincang. Karena sangat yakin, hafal dengan ciri-ciriku dan tak mungkin salah orang ia kemudian menyebut namaku lalu mengajakku pulang. Tentu orang yang disangka aku itu serta merta tidak mau dan menyebut dirinya sebagai orang lain. Begitu seterusnya, dan seterusnya, hingga orang-orang di sekitar tempat tinggalku sudah benar-benar lupa jika pernah ada seorang anak bernama Jamal.

Tahun ketiga belas dari kepergianku, Pak Sukri, seorang yang rajin ziarah ke kuburan para wali—biasanya setahun sampai dua atau tiga kali mengunjungi kuburan para wali yang ada di tanah Jawa, mulai dari Surabaya sampai Banten. Pada salah satu kompleks kuburan di Banten itulah ia menjumpai seorang pemuda yang bisu. Fisiknya tidak terawat dan pekerjaannya merapikan sandal para pengunjung di undakan kompleks kuburan. Ia masih mengenali ciri-ciri pemuda itu, karena sewaktu masih di rumah, ia sangat akrab dengan pemuda tersebut. Pemuda itu tak lain adalah ponakannya, atau diriku  sendiri. Setelah banyak berbincang, berbicara panjang lebar dengan juru kunci di sana, juga menanyakan segala hal mengenai pemuda tersebut, akhirnya Pak Sukri menjadi yakin ia adalah aku. Dan seketika itu ia juga menyuruh ayah dan ibuku menyusul ke sana. Kemudian membawaku pulang.

Butuh beberapa bulan untuk menjinakkanku ketika sudah di rumah. Aku ditaruh di tempat khusus dan orang-orang pintar datang silih berganti. Pada akhirnya aku berjodoh dengan salah satu kiaiku sendiri, Hamid Muhammad. Air tujuh sumber membasahi seluruh tubuhku. Siraman itu membuatku kejang-kejang, lalu sekarat-kaku sampai beberapa hari seperti mati suri. Hingga kemudian aku terbangun lagi sebagai sekarang setelah tiga belas tahun tidur dalam terjaga. Dan tentu tak ada satu pun mimpi yang kuingat dalam tiga belas tahun itu. Semua hitam, hitam, terhalang tabir hitam. (*)

Denpasar, 2017
                                                                                                                       

*Pertama kali tayang di pojokpim, 25/1/2020  

Posting Komentar

0 Komentar