BEBERAPA saat sebelum bangun, aku hanya melihat ada tabir hitam di depan
mataku, kadang ada kelebat lembut dan menampakkan manik-manik cahaya. Lalu,
setelah itu pelan-pelan mataku terbuka. Aku benar-benar tidak merasakan sesuatu,
hanya seperti baru bangun dari sebuah tidur panjang. Urat-urat di
tubuhku terasa kaku, badanku lemas, tapi selebihnya aku tak merasakan sakit
apa-apa.
Aku pandangi sekelilingku,
semua orang yang ada di ruangan matanya tertuju kepadaku.
Kemudian kupandangi tubuhku sendiri, mulai dari lengan, telapak tangan, kaki, dan
semuanya. Aku merasakan bagian-bagian tubuhku telah berubah. Rambutku
tumbuh sangat panjang dan acak-acakan. Kukuku panjang dan ujungnya
hitam-kotor.
Kulitku sudah berbulu lebat dan menampakkan daging yang matang. Aku tampak lebih
besar daripada sebelumnya. Aku heran dengan segala yang telah terjadi kepadaku.
Mengapa aku di sini?
“Kau sudah sadar, Nak,”
ucap seorang perempuan sambil memelukku dan menangis. Kemudian setelah aku
ingat-ingat ternyata ia adalah ibuku. Rambutnya mulai memutih, wajahnya tampak
keriput, tangannya gemetar ketika menyentuh tanganku dan ia kelihatan
sangat lelah.
Kulihat orang-orang yang
duduk, berdiri, dan berlalu lalang kini sudah mulai sibuk
sendiri-sendiri. Ada yang menelepon dan terdengar ucapan,
“sudah sembuh”. Ada yang mulai membawa nampan berisi makanan lalu dihidangkan
ke orang-orang sekelilingku. Ada pula yang semula berada di ambang pintu kini
mulai mendekat dan duduk di ranjang di dekat kakiku, memijat-mijat betisku
sambil berseru: Syukurlah!
Aku menjadi semakin tidak
mengerti apa sesungguhnya yang telah terjadi. Aku benar-benar tidak punya
ingatan apa-apa selain masa lalu yang begitu jauh—yang kini mulai
terbayang—tentang masa kanak-kanak atau masa remaja sampai akhir semester kelas
tiga SMP. Lalu selebihnya hitam, gelap, dan seperti ada tabir tebal
yang menutupi ingatan.
Seorang lelaki jangkung,
berjenggot, rambutnya mulai memutih, dan di dahinya ada bekas
luka, mendekat dan memegangi tanganku, matanya tampak berkaca-kaca tapi tak
mengeluarkan sepatah kata. Meski sudah sedikit berubah tapi aku masih mengenali
tanda luka itu. Ia pasti ayahku. “Ayah,” bisikku pelan. Dan ia
semakin erat menggenggam tanganku, seperti seorang yang takut kehilangan. “Apa
sebenarnya yang telah terjadi padaku?” Ia terdiam, seperti enggan memberikan
jawaban.
“Kamu istirahat saja. Ibumu
sedang ke dapur membuatkan bubur untukmu,” ucapnya dengan nada penuh kasih
sayang.
Aku semakin heran.
Orang-orang di sekelilingku hanya kasak-kusuk dan tak satu pun dari mereka yang
kukenali. Pemandangan di luar yang terlihat dari jendela juga terasa berbeda,
tak seperti yang biasa aku lihat. Begitu pun kamar yang kutempati, sama sekali
asing.
“Aku berada di mana?”
tanyaku lagi.
“Kamu di sini, di rumahmu
sendiri,” jawab ayahku sambil menatapku penuh prihatin.
“Susi ke mana? Suruh dia ke
sini, aku kangen,” pintaku, karena sejak tadi aku tak melihat adikku ada di
antara kerumunan.
“Adikmu sudah tak ada,”
ucapnya dengan suara yang berat.
“Tak ada? Maksudnya?”
“Semua sudah banyak yang
berubah. Kamu istirahat saja, ya.” Lalu ia beranjak
meninggalkanku, menuju kerumunan orang-orang di luar kamar.
Sedangkan aku masih terus
telentang di atas kasur dengan selimut yang tampak masih baru,
dua bantal di bawah kepalaku, satu di bawah kakiku dan aku diliputi
oleh keasingan. Hanya duga dan duga yang mulai bergerilya di dalam kepalaku.
Aku ingin beranjak dari ranjang tapi tubuhku sangat lemas, bahkan untuk
mengangkatkan tangan pun tak sepenuhnya mampu. Betapa lemah tubuhku. Ada apa
ini? Aku mencoba mengingat-ingat lagi sepenuh daya tentang segala yang terjadi
kepadaku sampai akhirnya aku tergeletak seperti sekarang. Tapi lagi-lagi ada
tabir gelap yang menghalangi ingatan.
Rohman, Ridwan, dan
Yakub, nama-nama temanku yang kini mulai kuingat. Mereka kawan di rumah
sekaligus kawan di sekolah. Aku sekarang ingat sekolahku, ingat
pelajaran-pelajaran yang kutinggalkan atau sepeda yang selalu menemaniku ke
mana-mana. Tapi lebih dari itu tidak aku ingat—dan masih berusaha
mengingat-ingat. Kini aku mencoba menerka-nerka juga: apakah aku sebelumnya
sudah mati? Atau selama ini aku menjadi orang gila? Atau sekadar tidur panjang,
sangat panjang dan tak merasakan mimpi apa-apa? Bisa jadi, gumamku, tapi
tak sepenuhnya yakin.
Seseorang masuk ke kamar,
lelaki lebih tua dari ayahku. Memakai sarung dan kemeja kotak-kotak. Duduk di
samping kepalaku, kemudian menaruhkan telapak tangannya di dahiku. Tangannya
terasa sangat dingin, dan dengan cepat dingin itu terasa di dahiku, merambat
ke leher, ke lengan, ke dada, dan ke seluruh tubuhku.
“Kau masih ingat siapa aku?”
tanyanya sambil tersenyum. Aku menggeleng lemah.
“Aku Hamid Muhammad.”
Ternyata ia dari pondok di
sebelah rumahku. Saudara kiai pengasuh pondok tempatku belajar mengaji.
Aku mulai ingat, ia dari dulu memang sebagai kiai-tabib, menyembuhkan
orang yang sakit, orang kena guna-guna, orang kerasukan setan, bahkan
orang gila. Lambat laun dugaanku pada diri sendiri kini semakin menjadi-jadi.
Berarti aku salah satu pasiennya? Berarti aku? Tidak! Tidak mungkin. Aku
baik-baik saja. Aku hanya tidur panjang, sangat panjang tanpa menemui mimpi
sama sekali.
“Saya kenapa Kiai?”
“Kamu sakit,” ucapannya
masih selalu disertai.
“Sakit apa?”
“Tidak apa-apa. Jangan
khawatir sebentar lagi sembuh.” Kemudian ia berdiri mendapati ayahku di sisi
jendela, dan pamit pulang.
Aku tak sanggup lagi untuk
berusaha menerobos tabir gelap yang menghalangi ingatanku tentang sesuatu
yang terjadi sebelum aku terjaga seperti sekarang. Kini aku hanya ingin
mendengarkan, menyimak cerita orang-orang mengenai diriku. Tapi mereka semua
bisu. Ada sesuatu yang ditahan, yang disembunyikan dariku. Seakan tidak rela
jika aku mengetahuinya. Aku jadi ingin segera beranjak dari ranjang,
menyaksikan wajahku di cermin, melihat pekarangan rumah yang sama sekali asing
ini, dan ingin menemui Rohman, Ridwan, Yakub, sahabatku itu. Aku yakin mereka
akan menceritakan yang sesungguhnya.
Terlihat dari jendela kamar,
daun-daun mangga tampak berkilau disinari matahari barat. Buahnya yang lebat
bergelantungan, sebagian sudah menguning. Sesekali tampak bajing melompat dari
satu ranting ke lain ranting. Rupa-rupanya sudah musim mangga, batinku. Mungkin
sekarang adalah bulan puasa atau menjelang puasa. Setidaknya dari dulu itu yang
kutandai: ketika musim mangga sudah mencapai puncaknya, maka sebentar lagi
puasa.
Suasana di luar kamar sudah
sepi. Satu persatu orang beranjak pulang. Dan gedung ini, rumah ini ternyata
benar-benar sepi, padahal waktu itu selalu saja ada teriakan-teriakan nakal
Susi, atau nyanyi-nyanyi saja di ruang tamu, di dapur, dan
kamar tidur. Juga, sejak terjaga tadi sampai sekarang belum sekalipun kudengar
gemuruh kereta api lewat. Bukankah rumahku tidak jauh dari perlintasan kereta
api?
Kini benar-benar asing dan
aku tak mengerti.
Perempuan yang rambutnya
sudah mulai uban itu masuk ke kamar. Ya, ibuku. Membawa sepiring bubur dan
duduk di sampingku. “Makanlah,” ucapnya. “Kamu harus pulih
dan banyak makan biar kuat lagi.” Perempuan tua itu menyuapiku, pelan
dan hati-hati.
“Apa sebenarnya yang telah
terjadi padaku?” pertanyaan itu kulontarkan lagi.
“Kamu baru pulang dari
perjalanan jauh.”
“Perjalanan jauh?” aku
mendelik—memaksa. “Adikku ke mana?”
Setelah pertanyaan itu
kulihat dengan jelas air muka ibu berubah tiba-tiba. Ibuku menangis, menangis
sesenggukan lalu sambil memelukku. Dadaku sesak rasanya melihat perempuan itu
begitu bersedih.
“Susi sudah pergi. Beberapa
waktu setelah kepergianmu.”
Aku sedih mendengarnya. Tapi
aku juga masih bingung. Kepergianku, kepergian Susi, sesuatu yang teka-teki
bagiku. Sedangkan ibu tetap tidak mau berterus terang.
***
Seperti yang kuduga
sebelumnya, aku tak akan mungkin menjumpai lagi diriku yang dulu. Jamal kecil
dengan wajah yang masih bersih, kulit mukanya yang begitu muda. Ketika kulihat
wajahku di cermin yang menggantung di depan kamar, tampaklah aku sudah begitu
tua jika dibandingkan dengan keadaan dulu yang masih kuingat. Mungkin
sepuluh atau lima belas tahun selisihnya dengan keadaan itu—perkiraanku. Itu terlihat dari raut wajahku. Kantung mataku sudah mulai tampak.
Meski tak tumbuh kumis tapi aku merasakan wajahku telah benar-benar berubah.
Benarkah aku tidur selama itu, sepuluh sampai lima belas tahun?
Hari masih sangat pagi.
Semalam aku benar-benar tidak bisa tidur, bergelut dengan diri sendiri.
Pertanyaan datang silih berganti dalam kepalaku. Ada
seratus benang kusut di benak yang tak bisa kuurai. Di luar, kulihat bukan lagi
pekarangan yang kukenal. Daerah yang sama sekali asing. Aku mencoba menebak-nebak kembali. Selama aku tidur tentu bapak telah pindah ke sini, ke
rumah baru ini.
Dan aku ingin sekali pergi
dari sini, menemui masa laluku, menyelesaikan berbagai hal yang belum sempat
kuselesaikan di sana. Tapi waktu sudah jauh lewat. Aku ingin keluar rumah,
ingin tahu keadaan yang sebenarnya. Namun rasanya tubuhku masih saja sulit
diajak beranjak ke mana-mana.
Di dinding kulihat ada fotoku
bersama Susi dengan ekspresi begitu gembira. Foto itu diambil ketika
aku naik kelas tiga SMP dan dia baru lulus SD. Rasanya baru kemarin semua itu
terjadi, tapi ketika terbangun dari tidur semua telah berubah. Ibu dan Ayah
sudah tampak sangat tua, Susi tak ada, aku menjadi tidak mengenal orang-orang
di sekelilingku, dan lebih-lebih lagi tidak mengenal diriku
sendiri. Aku merasa sebagai orang yang terlahir kembali, hanya, masih
membawa beban dan kenangan masa lewat yang pernah kujalani.
***
Menurut beberapa saksi mata,
saat itu aku ada di pasar kota, masih mengenakan segaram sekolah.
Hari menjelang sore dan aku duduk-duduk saja di emperan pasar. Menerawang
kosong, juga sesekali menampakkan kebingungan. Sampai isya
tiba, orang tuaku masih tidak menghiraukan aku
tak pulang. Mungkin masih mampir di tempat temannya, begitu pikir mereka,
karena aku sudah terbiasa tidak langsung pulang ke rumah sepulang dari
sekolah—tapi tidak pernah menginap di rumah teman kecuali memang meminta izin dulu
pada orang tua. Setelah larut malam orang tuaku mulai bingung, namun belum
mengambil tindakan apa-apa. Baru keesokan harinya mereka menyatakan aku hilang,
dicarilah ke pasar tempat terakhir kali aku dilihat oleh saksi mata itu, namun
ternyata sudah tidak ada. Tidak ada satu pun orang yang tahu aku beranjak ke
mana.
Sehari, dua hari, aku belum
pulang juga. Mereka—orang tuaku, kerabat, tetangga, dan teman-teman dekatku—mulai
beraksi, menyebar ke mana-mana, ke rumah teman-temanku, ke sekolah, ke semua
tempat tinggal saudara dan kerabatku di dalam dan luar kota, tapi tetap nihil.
Satu minggu, dua minggu aku belum juga pulang. Positif aku dinyatakan sebagai
anak yang sudah benar-benar hilang. Pengumuman tertulis disebarkan ke mana-mana,
ditempelkan di tembok-tembok kota, di tiang listrik, di pasar-pasar, dan di
perempatan. Semua upaya telah dilakukan oleh orang tua dan kerabat-kerabatku.
Ke dukun atau ahli spiritual pun telah dilakukan. Aku dicari ke arah barat, itu mengikuti
petunjuk Mbah Busiri, dukun terkenal di tempatku. Wilayah barat kini
menjadi sasaran penyirisan, setiap pasar, tempat-tempat ramai, atau
masjid telah mereka datangi untuk mencariku. Begitu
terus-menerus
sampai berbulan-bulan, hingga pencarian sampai kota paling barat di provinsi
tempat aku tinggal. Orang tuaku mulai lelah mencariku, sudah tidak ada biaya
lagi untuk pergi ke mana-mana. Akhirnya hanya bisa pasrah dan pasrah. Ibu
setiap malam menangismembayangkan nasib anaknya. Setiap selasai salat aku terus
didoakan, dipanggilnya pulang. Adikku terus uring-uringan
dan sedih, merindukan kakaknya. Ayahku pun sudah habis berpikir untuk
mencari jalan.
Setahun, dua tahun, empat
tahun mereka kini mulai menjadi terbiasa atas ketidakhadiranku. Sesekali
terlupa, sesekali hadir dalam mimpi Ibu dan terbayang kembali.
Terkadang juga menerima laporan dari orang yang baru pulang dari merantau di Jakarta
bahwa pernah sekilas melihat orang yang mirip denganku. Laporan lainnya lagi,
aku menjadi penjual bakso keliling di Bandung. Saksi mata pernah
mengajakku berbincang. Karena sangat yakin, hafal dengan ciri-ciriku dan tak
mungkin salah orang ia kemudian menyebut namaku lalu mengajakku pulang. Tentu
orang yang disangka aku itu serta merta tidak mau dan menyebut dirinya sebagai
orang lain. Begitu seterusnya, dan seterusnya, hingga orang-orang di sekitar
tempat tinggalku sudah benar-benar lupa jika pernah ada seorang anak
bernama Jamal.
Tahun ketiga belas dari
kepergianku, Pak Sukri, seorang yang rajin ziarah ke kuburan para wali—biasanya
setahun sampai dua atau tiga kali mengunjungi kuburan
para wali yang ada di tanah Jawa, mulai dari Surabaya sampai Banten. Pada
salah satu kompleks kuburan di Banten itulah ia menjumpai seorang pemuda yang
bisu. Fisiknya tidak terawat dan pekerjaannya merapikan sandal para pengunjung
di undakan kompleks kuburan. Ia masih mengenali ciri-ciri pemuda itu, karena
sewaktu masih di rumah, ia sangat akrab dengan pemuda tersebut. Pemuda itu tak
lain adalah ponakannya, atau diriku
sendiri. Setelah banyak berbincang, berbicara panjang lebar dengan juru
kunci di sana, juga menanyakan segala hal mengenai pemuda tersebut, akhirnya
Pak Sukri menjadi yakin ia adalah aku. Dan seketika itu ia juga
menyuruh ayah dan ibuku menyusul ke sana. Kemudian membawaku pulang.
Butuh beberapa bulan untuk
menjinakkanku ketika sudah di rumah. Aku ditaruh di tempat khusus dan
orang-orang pintar datang silih berganti. Pada akhirnya aku berjodoh dengan
salah satu kiaiku sendiri, Hamid Muhammad. Air tujuh sumber membasahi
seluruh tubuhku. Siraman itu membuatku kejang-kejang, lalu sekarat-kaku sampai
beberapa hari seperti mati suri. Hingga kemudian aku terbangun lagi sebagai
sekarang setelah tiga belas tahun tidur dalam terjaga. Dan tentu tak ada satu
pun mimpi yang kuingat dalam tiga belas tahun itu. Semua hitam, hitam,
terhalang tabir hitam. (*)
Denpasar, 2017
*Pertama kali tayang
di pojokpim, 25/1/2020

0 Komentar