Umbu, Pengasuh “Taman Kreatif”


Ia bukan seorang penulis besar, namun ia pribadi yang besar. Tak diragukan lagi kiprah dan pengabdiannya pada dunia puisi, terutama dalam membidani lahirnya penyair-penyair mumpuni. Meski ia sendiri selalu menampik dengan rendah hati bahwa dirinya sebagai “pemupuk” semata. Bahkan, sekali waktu ia berujar, “Puisi bukan hanya milik penyair. Puisi adalah milik semua orang. Cendekiawan menulis puisi tidak harus menjadi penyair. Tetapi itu perlu dilakukannya untuk keseimbangan jiwanya.”
          
Ia seorang pangeran dari timur yang meninggalkan kepangeranannya, dan memilih hidup bersama puisi. Nama lengkapnya adalah Umbu Wulang Landu Paranggi, lahir dari keluarga bangsawan di Kananggar, Waingapu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, 10 Agustus 1943. Seusai Sekolah Menengah Pertama, ia menuju Yogyakarta untuk melanjutkan sekolah di  Taman Siswa Yogyakarta, namun terlambat karena pendaftaran telah ditutup. Akhirnya Umbu meneruskan sekolah di SMA Bopkri 1 Yogyakarta.
          
Di SMA Bopkri inilah Umbu bertemu dengan seorang guru yang kemudian ikut memengaruhi jalan hidupnya. Guru itu bernama Lasia Sutanto, mengajar Bahasa Inggris (di kemudian waktu ia menjadi Menteri Negara Peranan Wanita Indonesia yang pertama). Saat pelajaran Bahasa Inggris berlangsung, Umbu sering kali diam-diam menulis puisi, hingga suatu kali kepergok teman-temannya dan dilaporkan ke guru tersebut untuk diberi hukuman. Tetapi, alih-alih mendapatkan hukuman, puisi yang ditulis diam-diam oleh Umbu justru membuat gurunya itu penasaran dan meminta kepada siswa lainnya untuk mengkritik ramai-ramai saja ketika puisi tersebut sudah dimuat di koran. Dan bagi Umbu, hal itu membuat memicu semangat kreativitasnya.
           
Di Yogyakarta, sejak pertengahan tahun 1960-an peran Umbu mulai diperhitungkan. Terutama ketika ia mengasuh rubrik puisi di Mingguan Pelopor Yogya dan mendirikan Persada Studi Klub (PSK) bersama penyair Iman Budi Santosa, Suwarna Pragolapati, dan Teguh Ranusastra Asmara. Tidak hanya menyeleksi puisi-puisi yang masuk ke redaksi, Umbu juga memberi saran, masukan, dan perhatian khusus. Bahkan ia menemui dan memotivasi penulisnya sebagai bagian dari “sentuhan” kreatif. Meski tak mengajari puisi secara teoritis, Umbu mengajari dengan menunjukkan langsung kehidupan puisi. Misal mengajak penyair muda jalan kaki di malam hari untuk menghayati lingkungan sekitar. Baginya, kehidupan sendiri itu adalah puisi dan puisi adalah kehidupan. Antara puisi dan kehidupan adalah satu-kesatuan yang tak terpisahkan.
           
Umbu ibarat magnet, sejak tahun 1968-1977 PSK menjadi sarang anak-anak muda beragam latar yang datang dari berbagai tempat hanya untuk berproses menulis puisi. Komunitas yang bermarkas di Malioboro dan hanya terdiri dari satu kotak kamar sempit itu tumbuh menjadi pusat kreativitas dan melahirkan penulis-penulis baru. Bahkan jalan yang menjadi salah satu ikon Yogyakarta itu menjadi jalan bagi para petualang kreatif sastra, menjadi tempat menampung para “gelandangan puisi” yang bersentuhan dengan Umbu. Dan sekali waktu Umbu pun dijuluki sebagai “Presiden Malioboro” oleh budayawan, sastrawan, jurnalis, dan para akademisi.     
          
Dengan tangan dinginnya, ia kemudian melahirkan penyair-penyair kawakan dalam kancah kesusastraan Indonesia, seperti Emha Ainun Najib, Korie Layun Rampan, Linus Suryadi AG, dan Yudistira Adi Nugraha. Dengan ketelitian dan kesabarannya menemani anak-anak muda berproses kreatif, Umbu mampu membuat mereka “berkeyakinan” pada puisi. Bahkan tak sedikit dari mereka akhirnya menjadikan puisi sebagai jalan hidup. 

Meskipun minim memublikasikan karyanya, sosok Umbu dalam sejarah sastra Indonesia modern tentu sangat diperhitungkan. Ketika ekosistem kesusastraan di Yogyakarta sudah terbentuk dengan kukuh lewat perannya, pada pertengahan tahun 70-an Umbu pergi dan menghilang dari Yogya untuk selama-lamanya. Di kemudian hari, pada tahun 1979 ternyata ia memilih tinggal di Bali lalu mengulang melakukan apa yang pernah dilakukannya di Yogya, yaitu mencari bibit-bibit muda untuk dikenalkan dengan sastra. 

Umbu sedang "pidato kebudayaan" di Kampung Puisi

Di Bali, Umbu mengasuh rubrik puisi mingguan Bali Pos. Di rubrik tersebut ia memakai strategi yang unik untuk membuat anak-anak muda kecanduan pada puisi. Misal, rubrik puisi dibagi menjadi rubrik “Pawai”, untuk penulis puisi pemula. “Kompetisi” untuk puisi dari pemula yang sudah lumayan matang. “Kompetisi Promosi” untuk puisi yang layak bertanding dengan puisi lainnya yang sama-sama sudah dianggap selesai secara teknik. Dan puncaknya adalah rubrik “Pos Budaya”, rubrik ini untuk puisi dari penyair yang sudah dianggap “jadi”. Rubrik terakhir inilah kelas paling tinggi dan bergengsi, yang oleh Umbu puisi-puisi termuat di situ sudah dianggap sekelas puisi-puisi yang terbit di Majalah Horison secara kualitas. Beratus-ratus calon penyair berguguran sebelum mencapai Pos Budaya. Dan hanya segelintir calon penyair gigih yang mampu mencapainya, yang di kemudian waktu memang terbukti menjadi penyair sungguhan.

Meskipun dikenal cukup misterius, bertinggal di atas “angin”, dan menjalani pola hidup eksentrik, sekali waktu Umbu juga banyak melakukan turba ke berbagai kabupaten di Bali, mencari potensi dan kemungkinan, membimbing dan menemani anak-anak muda mengasah kreativitasnya. Hal ini kemudian memang tampak hasilnya. Sejak tahun 80-an sampai kini, selain Yogyakarta, Bali menjadi salah satu tempat yang kesusastraannya sangat semarak. Bahkan banyak sastrawan/penyair nasional di Bali berkat sentuhan langsung Umbu. Walaupun Umbu sendiri sampai sekarang tetap dengan laku hidupnya yang sederhana, menjauhi popularitas dan keramaian, dan kadang sulit ditemui

 Jika dipandang sebagai seorang guru, Umbu adalah sosok guru yang sangat unik. Cara mendidik dan memotivasi anak-anak muda dalam dunia kepenyairan tidak akan pernah kita dapatkan di bangku pendidikan formal. Kita akan teringat satu tokoh pelopor pendidikan di Indonesia, Ki Hajar Dewantara. Umbu mengadopsi dan menerapkan sistem among dengan konsep asah-asih-asuh kepada anak-anak muda yang ingin Menapaki jalan kepenyairan, di mana ketiga hal tersebut adalah kebutuhan dasar bagi semua manusia.

Metode yang dipraktikkan Umbu pada anak-anak muda dalam berproses dan berkarya menunjukkan bahwa ia tidak semata melihat sebuah karya dahsyat, namun lebih pada mengapresiasi sebuah proses yang dialami para penyair. Bukan hanya kecerdasan dan keterampilan saja yang perlu dimiliki oleh seorang kreator, namun juga mental yang kuat. Dengan begitu seleksi alam akan bicara. Ada yang tenggelam dan ada yang bertahan. 

Selain nampak sosoknya sebagai seorang guru, Umbu juga layaknya seperti orang tua atau kakak. Ia memberi teladan, semangat, dan daya kekuatan pada anak-anak muda, seperti filosofi yang sering kita dengar:Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri andayani”.

Kalaupun ada sebuah sebutan bagi Umbu Landu Paranggi selain sebagai penyair/guru penyair, ia layak disebut tokoh pendidikan di masanya. Sama seperti Ki Hajar Dewantara, meski keduanya berada pada dua jalur yang berbeda. Ki Hajar Dewantara gerilya di jalur pendidikan formal melalui “Taman Siswa”, dan Umbu Landu Paranggi gerilya di jalur pendidikan nonformal melalui “Taman Kreatif”—taman daya cipta.
         

Posting Komentar

0 Komentar