Tidur
adalah rutinitas kekalahan manusia dari kesadaran dan keterjagaan. Disadari
atau tidak, tubuh mempunyai program alamiah, dan tidur merupakan salah satu
programnya yang secara otomatis aktif setiap hari dalam waktu-waktu tertentu.
Tidur telah menjadi bagian dari kebudayaan purba umat manusia.
Tidur,
bisa diterjemahkan sebagai pengalaman fisik maupun pengalaman spiritual. Fisik
manusia, bagaimanapun kuat dan tangguhnya, ia tetap memerlukan istirahat. Tidur
sebagai istirahat yang ampuh, di mana seluruh organ tubuh rehat total dan tidur
dg sistem otomatisnya melakukan pembaharuan-pembaharuan energi sehingga ketika
kita bangun akan merasakan tubuh kita segar dan bergairah kembali. Dengan kata
lain, tidur adalah 'pembersihan cache', pembersihan sampah-sampah dalam
pikiran, kerak dan lumut yang mengendap di alam bawah sadar, lewat mimpi.
Sedangkan
tidur sebagai pengalaman spiritual, adalah di mana roh dan kesadaran kita yang
lain menjadi begitu intens membuka selubung-selubung cakrawala rahasia dan
dimensi berbeda yang jarang bisa ditempuh dalam keadaan mata terbuka. Lewat
mimpi murni—untuk membedakan dengan mimpi yang berasal dari sampah pikiran dan
kerak alam sadar, ilham ataupun berinteraksi dengan orang lain tanpa sekat
ruang dan waktu. “Tidur adalah meditasi terbaik,” begitu kata Dalai Lama.
Dalam
perjalanan umat manusia, banyak sejarah, dongeng ataupun mitos tentang tidur,
baik berupa keajaiban, kekalahan manusia atau hal-hal di luar nalar. Dalam
literatur Islam misalnya, kita mengenal sejarah Ashabul Kahfi, tujuh pemuda dan
seekor anjing yang diburu seorang raja karena membangkang. Dalam pelariannya,
ketujuh pemuda dan seekor anjing itu bersembunyi di sebuah gua, sehingga Tuhan
memberikan rahmat-pertolongan dalam bentuk tidur begitu ajaib. Ketujuh pemuda
yang memiliki sebutan Ashabul Kahfi itu terlelap selama tiga ratus tahun, dan
ketika bangun mereka dapati dirinya seolah tertidur hanya sehari, namun dunia
di luar telah dan tak ada lagi raja kejam yang memburunya.
Begitulah
tidur.

0 Komentar