Sowan Ke Realitas Tiga Santri



Sastra adalah hasil kerja kreatif yang memang berangkat dari (mengandalkan) imajinasi. Imajinasi adalah sebagai alat untuk menyusuri rimba mahaluas yang di dalamnya penuh berbagai kemungkinan untuk diolah. Namun bukan berarti disimpulkan sastra bertolak dari kekosongan, dari imajinasi semata. Imajinasi sekadar sebagai alat yang paling memungkinkan untuk menjangkau dan melampaui batasan-batasan dunia luar yang hendak dibungkus ke dalam teks. 

Maka tidak cukup kiranya ketika kita menjuluki sastra (khususnya prosa) sebagai fiksi semata, sebagai buah dari olah khayal dan sesuatu yang tak benar-benar terjadi dalam dunia sebenarnya. Antara teks dan di luar teks adalah saling terhubung dan berkelit-kelindan melalui perantara imajinasi. Atau dengan kata lain, sastra niscaya selalu bertolak dari dunia pengarang (sastra) itu sendiri; dari keadaan sosial, politik, budaya, alam, lingkungan, ataupun corak spiritualitas masyarakatnya. Dari realitas yang ada. 

Berdasarkan alasan ini, tentu kita bisa membedakan hasil karya sastra satu daerah dengan daerah yang lain. Satu lingkungan dengan lain lingkungan. Baik melalui corak budayannya ataupun kecendrungannya yang mencirikan masyarakat tertentu yang terekam dalam teks. Sebut saja misalnya, kita mampu membedakan karya sastra yang dihasilkan para pengarang yang lahir dan/atau berproses di Bali dengan pengarang yang lahir dan/atau berproses di Madura. Meski sama-sama menggunakan Bahasa Indonesia sebagai media dan imajinasi sebagai alat—perpanjangan tangan untuk menyententuh hal-hal di luar ‘batas’—tetapi keduanya lahir dari kultur dan kesadaran yang berbeda.

Latar proses, persentuhan kreatif dengan lingkungan, alam dan kehidupannya di mana para penghasil karya sastra itu berdiam, pada akhirnya mau tidak mau kita mesti menggolongkan atau mengelompokkan karya satu sastra(wan) dengan sastra(wan) lainnya berdasarkan hal-hal tersebut. Meski terkesan ganjil atau mengada-ngada, tapi pengkategorian seperti itu memang berlaku dan kerap kita ditemukan. Misalnya istilah “sastra pesantren” atau “sastra religi’’ seperti yang mencuat beberapa waktu terakhir. 

***

Sowan merupakan buku kumpulan cerita pendek yang diterbitkan Balai Bahasa Jawa Timur (2016), karya dari tiga penulis yang (men)santri di salah satu pondok pesantren salaf terbesar dan tertua di Indonesia, Sidogiri, Pauruan Jawa Timur. Masing-masing adalah Ahmad Averroes kelahiran Pamekasaan, Bin Damiri kelahiran Sampang, dan Muhaimin kelahiran Probolinggo. Ketiganya berasal dari kultur yang sama dan memiliki sisi kemaduraan yang kuat, pun berproses dalam lingkungan yang sama (pesantren). Maka tidak sulit untuk menemukan corak dan kesamaan nafas dalam cerpen-cerpen dari ketiga penulis tersebut. Tradisionalitas, religiusitas, lokalitas, ketaatan dan semesta pesantren menghiasi serta mudah ditemukan dalam cerita-cerita yang mereka angkat. 

Dalam cerita pembuka misalnya, Ahmad Averroes menggambarkan tentang sebuah keluarga miskin (fakir?) yang memiliki prinsip lebih baik tidak makan selama seminggu daripada meminta-minta, karena seperti yang diyakini sang tokoh dalam cerita, meminta-minta merupakan salah satu perbuatan yang hina. Kesabaaran dan kepasrahan kepada-Nya sebagai daya tawar satu-satunya dan sebuah jalan keluar dari permasalahan yang dialaminya.

“Ayah mengajarkan kami untuk menerima apapun yang sudah menjadi kepastian Allah. Beliau juga mengajari kami sabar terhadap cobaan ini. Kata beliau, segala sesuatu di hadapan Allah sama yang membedakan adalah cara pendekatan kepadaNya saja.” (Hal 2-3)

Apa yang diucapkan tokoh aku di atas tentu bukan hanya sebagai hiburan atas rasa lapar yang melandanya, melainkan lebih sebagai sebuah keyakinan, bentuk ketaatan ataupun kekokohan dalam berprinsip, memegang teguh tuntunan dan tuntutan moralitas agama. Begitu pun pada cerpen berikutnya, Ahmad Averroes dalam “Orang-Orang Desa” menceritakan sisi strereotip pada manusia Madura, di mana di satu sisi orang Madura mendapat predikat sebagai orang yang taat dan agama adalah di atas segalanya, tapi di sisi lain cap manusia keras masih juga melekat. Pemilihan kepala desa dalam masyarakat Madura (di beberapa wilayah khususnya di daerah pedesaan) misalnya, sampai hari ini masih menjadi cerita tersendiri. Seorang calon kepala desa dalam masyarakat Madura tidak ada sangkut pautnya dengan kecerdikan secara teknis dan kedekatannya dengan masyarakat. Begitu pun money politic hampir jarang terjadi dalam pemilihan kepala desa. Yang berlaku adalah bagaimana kekuatan calon kepala desa itu secara premanisme, bagaimana pengaruh dan wibawanya terhadap maling, bajingan, blater ataupun preman. Maka adu kekuatan antar calon kepala desa menjelang pemilihan dengan memanfaatkan para bajingan itu sesuatu yang ‘lumrah’ . Bentrok fisik, carok, pembunuhan antar preman masing-masing pendukung calon adalah bagian dari dekorasi pemilihan. Tidak hanya sampai pada pemilihan saja, namun pertaruhannya sepanjang masa aktif kepala desa terpilih. Jika kepala desa terpilih memiliki kekuatan maka aman desanya. Namun jika tidak maka sebalik, desanya akan diobrak-abrik maling, dan pencurian sapi milik warganya sebagai sasaran utama. Cerpen “Orang-Orang Desa” adalah cerita hitam pesta demokrasi tingkat bawah itu, khususnya tentang cara kerja preman yang ‘dibeli’ calon kepala desa.

Lain Ahmad Averroes lain Bin Damiri,  meski memiliki kesamaan corak, Bin Damini lebih intens mengeksplore kehidupan pesantren, seperti yang terdapat dalam cerpen berjudul “Jurnalis Pesantren” dengan ringan menceritakan tentang tingkah dan polah jurnalis dalam lingkungan pondok. Atau cerpen yang berjudul “Nama Saya Santri”. Bin juga tidak sedikit memasukkan diksi-diksi lokal dalam cerpennya. Diksi yang sebenarnya masih bisa diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dan tidak mengurangi makna atau maksud dari diksi disebut. Hal semacam ini tentu sedikit banyak merepotkan pembacanya yang tidak sebahasa—mesti harua berbolak-balik ke catatan khusus yang tertera di belakang.

Adapun "Sowan", salah satu cerpen Muhaimin sekaligus menjadi judul buku ini, juga tidak jauh berbeda dengan cerpen-cerpen dua penulis sebelumnya. Sowan sendiri memiliki makna menghadap kepada orang yang dimuliakan, entah itu kiai, orang tua atau raja (dalam Madura dikenal buppa’, babu’, guruh, ratoh—sebagai orang yang harus dihormati). Baik dengan maksud hanya ingin silaturrahim, mengadukan permalahan pribadi maupun sosial, atau sekadar mengharap berkah. Sowan dalam tradisi santri dan golongan tradisional sangat populer. Dalam masyarakat Madura sendiri sowan tidak hanya dilakukan orang-orang baik, tidak sedikit bajingan atau preman yang menjalani tradisi sowan dan memiliki kiai khusus untuk disowani. Begitu pun dalam cerpen Muhaimin, sowan dari seorang pembunuh kepada seorang kiai besar pesantren yang pernah menjadi gurunya. Irvan sang tokoh utama dalam cerita, seorang pemuda kampung dan menjadi penyanyi terkenal selepas mondok. Sebuah profesi yang sebelumnya ditentang oleh ibundanya karena tidak sesuai dengan didikan dengan dasar-dasar agama yang ketat semenjak kecil (menggambarkan sisi konservatif manusia Madura). Pertentangan ibundanya yang dilanggar ini pun kemudian ternyata melahirkan petaka bagi Irvan. 

Ketika ia berada di puncak kesuksesannya, sang istri main serong dengan teman sekaligus penyanyi idolanya, Rivaldo. Tanpa banyak perhitungan, Irvan lalu menghabisi nyawa orang yang pernah menjadi idolanya itu. Saat-saat ia hendak dibawa ke penjara oleh polisi, dengan tangan diborgol ia meminta izin untuk sebentar sowan ke kiai di pondoknya, sambil kemudian mengenang romantisme masa lalu ketika ia masih nyantri dan belum memasuki dunia gemerlap ibu kota.

Dari cerita "Sowan" tersebut, dan cerita-cerita lainnya dalam buku ini, satu hal yang saya catat, yakni masih memiliki benang merah dan bisa diringkas mengenai bagaimana “laku ketaatan manusia Madura”. Dan delapan belas cerpen di dalam buku ini rata-rata memiliki gaya yang cenderung realis. Juga sedikit mengabaikan cara memantik pembaca untuk menyelami lautan permenungan.  

Posting Komentar

0 Komentar