Sebuah tempat atau kota, bukan sebuah objek pasif. Bukan
benda mati yang sudah selesai sebagai dirinya. Tempat atau kota selalu
berdialektika dengan waktu dari masa lalu hingga kini. Tawar menawar atas
keabadian dirinya, dengan kondisi sosial-politik yang melingkupinya. Ada yang
mampu terus menawarkan diri untuk keberlangsungannya, ada pula yang tertinggal
dan digerus zaman sehingga pupus dan hanya menyisakan puing-puing kejayaan masa
silam.
Kita bisa menyaksikan ada banyak kota yang sampai
sekarang masih mempertahankan eksistensi dirinya sebagai warisan dari masa
lalu. Tapi kita juga bisa menelusuri banyak tempat atau kota yang hanya tinggal
cerita bahwa pernah menjadi titik penting dan mempunyai peran pada sebuah
peradaban. Bahkan tak sedikit yang hilang sama sekali, tanpa ada bekas yang bisa
dibaca. Atau jika cukup beruntung ia menyisakan artifak sebagai penanda untuk
ditafsir generasi yang datang di kemudian hari.
Dalam pustaka sejarah, kita
mengenal nama “Keta” dan “Sadeng”. Dua nama yang selalu disebut beriringan dan
tak bisa lepas dari pembicaraan ketika membicarakan sejarah Majapahit. Keduanya
memiliki momentum bersamaan yang tercatat oleh sejarah. Keta dan Sadeng tak
lain adalah kota atau kerajaan kecil yang tak mau tunduk atas invasi Majapahit
dan melakukan perlawanan pada tahun 1331 (dalam narasi yang lain keduanya disebut
melakukan pemberontakan), di masa kepemimpinan Tribhuwana Tunggadewi
(1328-1350).Keta dan Sadeng sulit dicari jejaknya pada hari ini. Tak banyak situs atau peninggalan dari keduanya yang bisa dibaca ulang. Dua nama ini sudah tidak ada dalam peta modern, bahkan hilang dari warisan ingatan kolektif. Meski kita tidak meragukan bahwa keduanya adalah tempat yang cukup penting dan eksis pada masanya, ternyata hal itu tidak menjamin keduanya menjadi abadi, atau setidaknya mudah ditelusuri lagi pada hari ini hal yang menyangkut masa silam dirinya. Sebagian sejarawan hanya meraba-raba melalui bukti arkeologis yang minim bahwa Sadeng berada di wilayah Jember dan Keta tak lain posisinya berada di sekitar Besuki.
Keta dan Sedeng menjadi diingat oleh sejarah karena
keberadaan namanya dalam salah satu karya sastra peninggalan era Mapajahit,
yaitu kakawin (syair) Nagarakrtagama
karangan seorang pujangga kerajaan, Mpu Prapanca. Keduanya disebut-sebut bersama sederet
nama tempat lainnya yang sebagian nama-nama itu sudah tidak ditemukan atau
tidak dipakai lagi sebagai nama tempat pada masa kini.
Keta dan Sadeng pun nyata tidak abadi dan terkubur
menjadi masa lalu. Tapi keduanya beruntung, ‘sempat’ tercatat sebuah karya yang
terus dibaca dari waktu ke waktu. Sebuah karya sastra yang dihasilkan oleh
zamannya dan menjadi rujukan sejarah di masa kini sehingga keduanya tidak
benar-benar sirna dari ingatan dunia.
Lain Keta dan Sadeng, tempat atau kota yang cukup
beruntung adalah Barus. Kota ini dalam peta modern terletak di Tapanuli,
Sumatera Utara. Pada masanya ia menjadi titik penting karena keberadaan kapur
barusnya, bahan yang menjadi salah satu komoditas yang sangat berharga. Barus
berkembang pesat menjadi kota perdangangan melalui keberadaan pelabuhannya yang
menjadi pertemuan antar pedagang internasional.
Bahkan ia memainkan peranannya sejak masa sebelum masehi. Kapal-kapal
dari kerajaan Fir’aun sudah berlalu-lalang di perairan Barus untuk berbelanja kapur barus atau kamper demi keperluan pengawetan mumi.
Begitu juga kapal-kapal dari Yunani pada abad ketiga dan kedua sebelum masehi.
Sebagai sebuah kota perdagangan, Barus bersinggungan
langsung dengan beragam dunia luar dan mencapai kejayaannya, baik dari segi
ekonomi, sosial dan budaya. Tapi Barus akhirnya surut dan pudar ketika kerajaan
Aceh Darussalam menaklukkannya pada awal abad ke tujuh belas. Pusat
perekonomian dan kebudayaan pun runtuh dan beralih wilayah sehingga lambat laun Barus mulai
terlupakan. Namun apa yang dihasilkan oleh Barus, terutama dari segi
kebudayaan, khususnya perkembangan literasi lewat karya sastra memiliki peran
untuk mengabadikan Barus.
Pada masanya Barus banyak menghasilkan penyair dengan
karya sastranya. Yang paling menonjol adalah Hamzah Fansuri, seorang penyair
sekaligus ulama-sufi. Ialah
yang mewartakan Barus lewat puisinya yang mengabadi, yang menyebut nama Barus
baik sebagai kota kelahirannya atau sebagai metafora dan simbol dalam puisi
sufistiknya. Melalui keabadian dirinya sebagai penyair besar dan keabadian
puisi-puisinya yang mengandung semangat universal, Barus yang pernah menjadi titik peradaan
dan kini sudah pupus, bahkan hanya menjelma jadi kota kecamatan yang sepi dan
ditinggalkan hiruk pikuk sejarah,
ternyata menjadi tak benar-benar dilupakan berkat kehadirannya dalam puisi.
Barus selalu diingat sepanjang Hamzah Fansuri, yang oleh A. Teeuw (pakar sastra
dan budaya Indonesia asal Belanda) disebut sebagai “Sang Pemula Puisi
Indonesia”, diingat dan dibaca.
Dan sebagaimana disinggung di atas, kota Keta dan Sadeng,
juga Barus yang pernah mencapai kejayaannya (atau setidaknya pernah eksis),
kemudian runtuh dan memudar karena kekalahannya berdialektika dengan kondisi
zamannya, terutama dengan politik dan kekuasaan pada masanya, adalah tetap jaya
dalam imajinasi pembaca yang membaca karya sastra yang menyebut nama-nama kota
itu. Dalam kata lain, ketika politik menghancurkan sebuah kota, karya sastra
(puisi) yang mengabadikannya. [*]
*Oleh Kim Al Ghozali / Buletin Lentera Bayuangga Edisi 2

0 Komentar