(Silaturrahmi
Puisi: Kalimalang – Jatijagat Kampung Puisi, 109)
Pada
bulan September ini Jatijagat Kampung Puisi (JKP) sebagai komunitas sastra di
Denpasar memiliki tiga agenda sastra. Dari ketiga agenda tersebut salah satunya
adalah menerima silaturahmi kawan-kawan dari komunitas Sastra Kalimalang, Bekasi,
tepatnya diselenggarakan pada hari minggu 25 September 2016 kemarin.
JKP
sebagai penutup perjalanan silaturahim mereka setelah sebelumnya singgah di
Yogyakarta dan Solo. Rombongan komunitas Sastra Kalimalang yang berjumlah dua
belas orang itu tiba di Denpasar pada tanggal 25 pagi hari. Tanpa banyak
istirahat setelah melakukan perjalan melelahkan, estafet dari Jakata -
Yogyakarta - Solo - Denpasar, mereka langsung menata panggung untuk pementasan
di malam harinya. Dengan segala peralatan yang mereka bawa sendiri untuk kebutuhan
pentas musikalisasi-teaterisasi puisi yang akan ditampilkan kepada kawan-kawan
di JKP juga kepada undangan umum—yang beberapa hari sebelumnya telah disebarkan
dengan gencar di media sosial Facebook.
Dengan
panggung sederhana namun cukup artistik, komunitas Sastra Kalimalang yang
dikomandani Ane Matahari menyapa kawan-kawan di JKP lewat beberapa nomer lagu.
Seperti yang diakui Ane Matahari, lagu-lagu mereka digubah dari puisi-puisi
jalanan, puisi-puisi orang pinggiran, meski ada juga beberapa puisi dari penyair
Indonesia kenamaan, puisi karya Abdul Hadi WM atau Taufiq Ismail salah satunya.
Namun
karena cuaca tidak mendukung, mendung yang menyelimuti Denpasar semenjak sore
hari, di tengah-tengah acara tiba-tiba hujan deras, akhirnya pementasan tidak
sampai selesai. Tapi meski begitu suasana menjadi lebih intim. Kami melanjutkan
pada acara diskusi lebih awal dari yang direncanakan. Diskusi “tanpa jarak”
sehingga nuansa karib dan suasana kekeluargaan menjadi lebih terbentuk. Diskusi
menjadi sangat cair. Di sela-sela diskusi diselingi juga pembacaan puisi dari kawan-kawan
Sastra Kalimalang maupun dari kawan-kawan JKP. Ada Obe Ahmad Marzuki, Didon
Kajeng, dan Ida Bagus Aditya mewakili JKP membaca puisi.
Silaturrahim
bukan hanya bentuk fisik melainkan juga pertemuan kreatif ini; pementasan puisi,
diskusi dan berbagi pengalaman seputar seni dan sastra, tentu menjadi sangat menarik
bagi kami (JKP) selaku tuan rumah. Spirit untuk terus menghidupi komunitas
sastra menjadi catatan tersendiri. Ane Matahari sebagai “komandan” dari Sastra
Kalimalang banyak menceritakan tentang kiprah dan pergaulannya Komunitas Sastra
Kalimalang dalam lintas dimensi. Misalnya dia menceritakan pengalamannya saat turun
langsung ke jalanan di Bekasi, Jakarta dan sekitarnya hanya untuk
memperkenalkan seni, sastra dan khususnya puisi. Keluar masuk lapas hanya demi
menyuruh para napi menulis puisi, menyuruh mereka mengungkapkan segela
kegelisannya dan apa yang tergenang di batinnya dengan media puisi. Menemui
tukang parkir, tukang ojek, pengamen, anak jalanan, para veteran khusus dengan
luka fisik dan psikis permanen untuk dikenalkan dengan puisi.
Dengan
‘mantra’ khasnya: “kata menjadi kita”,
semua dirangkul dan diadvokasi dengan cinta dalam puisi. Lebih-lebih pada
mereka yang termarjinalkan, mereka yang dipandang sebelah mata dalam nilai
hitam-putih kehidupan masyarakat. Sehingga komunitas Sastra Kalimalang mampu
menjadi semacam periuk besar yang menampung berbagai manusia dengan latar
belakang dan kemudikan dibekali kehidupan puisi dalam jiwa masing-masing mereka.
“Jika
politisi terus menerus menggaungkan perpecahan, maka kami tak henti-henti
merangkul dan menyatukan mereka dalam bentuk kekeluargaan,” begitu ucap Ane
Matahari memodifikasi ungkapan John F. Kennedy yang terkenal itu, sambil beberapa
kali ia mengutip sajak “Jangan” miliknya Sutardji Coulzoum Bachri yang
menurutnya sebagai bentuk ekspresi atas nilai kemanusiaan.
Dari
lintas pergaulannya itulah Ane Matahari dan komunitas Sastra Kalimalang tak
berlebihan tentunya jika dikatakan telah sampai pada tahap membumikan atau memasyarakatkan
puisi, memberi ruang kreativitas pada mereka yang ada di “garis pinggir” yang selama
ini dianggap tak berguna oleh sebagian orang, sehingga puisi bukan hanya milik
golongan tertentu saja, tetapi menjadi milik siapa pun sebagai bentuk ekspresi,
mengambil bagian bersuara terhadap apa yang ada di dalam maupun luar diri
mereka.
Ane
Matahari percaya setiap orang memiliki dasar keindahan dan menyukai keindahan, dan
dengan keindahan dalam puisi, puisi mesti menjadi fungsi untuk kesadaran dan
melembutkan budi pekerti.
Dengan
metode pendekatan puisi terhadap mereka yang mendapatkan “cap” dalam masyarakat,
tentu merupakan upaya menjalankan fungsi puisi (dan sastra pada umumnya) pada
yang semestinya; menjunjung nilai kemanusian. Tak mudah memang apa yang
dilakukan Ane Matahari dan kawan-kawan Sastra Kalimalang. Namun itu menjadi
keharusan, mengingat banyak dari kita sudah semakin tidak peduli, semakin tak acuh
dan apatis dalam tradisi kehidupan modern yang semakin hedonistik seperti
sekarang. Tentu ini sebagai PR dan pekerjaan besar bagi kita bersama, khususnya
bagi para penggerak seni dan sastra, khususnya lagi di sini. Nah!
*Kim Al Ghozali AM

0 Komentar