MOJOK.CO
– Pembeli buku yang pura-pura bodoh
dan bertanya balik, “Lho bukannya gratis?” itu ada. Eksis di dunia yang fana
ini. Sialnya, yang sedang ditanya itu saya.
“Minat baca
masyarakat kita memang rendah, tapi minat minta buku gratis sangat tinggi,”
begitu seorang teman penulis berseloroh, menggambarkan betapa
antusias dan doyannya sebagian masyarakat kita saat minta buku gratisan.
Bahkan, antusiasme ini mungkin lebih tinggi ketimbang minta traktir nonton
bioskop, misalnya.
Biasanya hal
semacam ini dialami oleh seorang penulis yang bukunya baru terbit dan melakukan
promosi secara online. Di sana selalu saja ada orang
nyeletuk-berkomentar: “Buat aku gratis ya,” atau, “Minta dong,” atau, “Teman
sendiri masa beli,” tanpa perasaan malu. Baik orang itu kenal dekat atau hanya
sebatas teman di media sosial, dan parahnya biasanya mereka adalah orang-orang
yang tak punya track record yang bagus soal budaya literasi.
Dari
kejadian seperti ini, rasanya tidak salah kalau saya mengambil kesimpulan
sementara bahwa masyarakat kita jangan-jangan bukan tak berminat membaca.
Bukan. Masyarakat kita sebenarnya punya minat baca, sayangnya tak berminat
untuk beli buku.
Barangkali
karena membeli buku bukan termasuk membeli barang yang pemakaiannya
dikategorikan praktis semacam membeli pulsa untuk kuota internet atau membeli
bedak yang bisa langsung dipakai dan efek atau manfaatnya bisa dirasakan
seketika.
Saya tak
tahu apa yang ada di benak orang-orang semacam ini. Mungkin ketika ada orang
menerbitkan buku, mereka berpikir orang yang menerbitkan buku itu sudah
otomatis berkecukupan dan mendapatkan limpahan rezeki dari bukunya secara
langsung. Atau dianggap penulis tidak keluar modal sama sekali, sehingga dengan
enteng meminta jatah atau mencicipi percikan karya tersebut.
Baiklah,
masih mending jika penulis yang bukunya diterbitkan oleh penerbit mayor yang
tak perlu rogoh kocek untuk biaya cetak—biayanya ditanggung penerbit dan
penulis dapat 10 eksemplar dari penerbit sebagai bukti terbit. Nah, 10 buku
yang didapatkan secara gratis itu masih bisa dibagikan secara gratis.
Kalau yang
menerbitkannya pakai jalur self publishing? Yang secara teknis semua
biayanya ditanggung si penulis gimana? Mulai dari membayar tukang lay out,
tukang sampul, editor sampai biaya cetak. Jangankan mendapatkan untung
atau balik modal, tekor sampai gulung karpet iya.
Di satu
sisi, memang perlu kita mafhum—meski ucapan meminta buku gratis itu kadang menyakitkan—atas
keawaman beberapa orang mengenai fakta di balik proses sebuah buku diterbitkan.
Bahwa untuk
mengembalikan modal satu buku yang diberikan secara gratis, seorang penulis
harus menjual beberapa eksemplar buku. Itu merupakan perkara yang sangat perlu
bagi pembaca-pembaca buku gratisan ini.
Atau mungkin mereka berkaca pada kesuksesan penulis-penulis yang tajir dari
karyanya. Katakanlah macam Tere Liye, Habiburrahman El Shirazy, atau Andrea
Hirata yang konon dengan royalti bukunya bisa untuk beli es cendol buat berenang
keluarga satu kelurahan. Oke deh, mereka ini pengecualian. Lah, bagaimana
dengan penulis buku puisi atau penyair yang nggak laku-laku amat karyanya?
Padahal buku
puisi merupakan salah satu buku yang agak sulit diperdagangkan. Dalam arti
bukan barang yang bisa dijadikan komoditas dan nilai jualnya bisa begitu
populer layaknya novel atau kumpulan cerpen. Kalaupun ada yang laku keras, saya
kira tidak banyak buku puisi yang bisa selaku genre buku lainnya.
Saya sendiri
tahu ada banyak sekali penyair yang tertatih-tatih dalam menjual buku puisinya,
terutama yang dijual secara pribadi baik online maupun offline,
atau melalui acara-acara bedah buku. Bagi buku puisi, laku 300 eksemplar itu
sudah masuk kategori karomah. Itu pun tidak dalam jangka waktu yang pendek
semisal seminggu atau sebulan. Kalau buku puisi hanya laku 70 eksemplar dan
yang minta gratisan 80 orang, apa tidak bolong modalnya, Pak Eko?
Soal menjual
buku karya sendiri secara online saya punya pengalaman sendiri. Selain
sering menerima celetukan “minta gratis”, buku saya beberapa kali dibeli orang
tapi tidak dibayar. Dibeli tapi tidak dibayar artinya gratis, hanya saja
narasinya “membeli”.
Dalam
menjual buku sendiri secara online, saya mengikuti cara beberapa teman
penulis dalam proses transaksinya. Ketika saya promosi buku di Facebook,
Instagram atau Twitter lalu mendapat tanggapan ada orang yang berminat dan mau
membeli, biasanya saya langsung chat via inbox untuk menanyakan alamatnya
sekaligus memberi harga buku beserta ongkos kirimnya.
Lalu saya kirim
buku ke alamat yang sudah diberikan itu. Saya tak pernah meminta buku saya
untuk dibayar duluan atau si pembeli mentransfer uang terlebih dahulu seperti
halnya transaksi online umumnya. Saya pikir ini cara menjual buku
sendiri yang paling ramah dan bersahabat. Baru kemudian setelah si pembeli
mengabarkan bukunya sudah sampai atau ketika saya cek online di website
jasa pengiriman barang buku sudah diterima, saya hubungi kembali si pembeli dan
memberikan foto nota pembayaran.
Orang yang
paham biasanya langsung menanyakan nomor rekening saya. Tapi tentu ada juga
pura-pura bodoh dan bertanya balik, “Lho bukannya gratis?”
Saya jawab,
saya sedang jualan dan itu sudah jelas sejak saya promosi sampai saat saya
inbox. Dia masih ngeyel dengan jawaban, “Si Anu juga dapat ‘kan?”—kebetulan
memang ada seorang tokoh publik yang berfoto dengan buku saya dan saya posting
di media sosial.
“Si Anu juga membeli,” kata saya. Tapi karena memang dasarnya mungkin
bermental gratisan, dia tak menjawab lagi inbox saya dan juga tidak transfer
uang.
Ada pula
yang meminta dikirimi buku secara gratis dengan modus ingin mengulas atau bikin
resensinya. Namun karena saya tahu itu memang cuma modus, maka meskipun buku
sudah dikirim tentu ulasannya tak muncul-muncul juga. Oqe, baeqla~
Cerita ini
adalah bagian dukanya menjual buku sendiri secara online. Sedangkan
bagian menyenangkannya tentu ada juga, meski nggak sering. Yah, namanya juga
suka-duka, maka selalu beriringan.
Misal,
ketika menjual buku seringkali saya menerima uang pembayaran “yang
tidak-tidak”. Beberapa dari teman yang saya kenal, beberapa dari yang sebatas
saya kenal. Ketika membeli satu eksemplar buku yang harganya 40 ribu sekian
rupiah beserta ongkos kirimnya, tak jarang ada yang mentransfer duit sampai dua
ratus ribu rupiah.
Tentu saja
saya keberatan dengan transaksi macam ini. Saya komplain ketika mereka
menunjukkan bukti transfernya, namun malah dijawab, “Itu rezekimu. Terima
saja.”
Wah, saya
bisa apa, selain mengucapkan terima kasih? Lalu berpikir, mungkin ini gantinya
buku-buku saya yang sudah kadung kena tipu gratisan.
Namun tentu
ada pula yang tidak saya beratkan, karena memang ada yang tak menunjukkan bukti
transfer, tapi di kemudian hari ketika saya cek buku tabungan, tiba-tiba sudah
ada rekam transfer di luar ketentuan saya atas harga buku yang saya jual.
Lagi-lagi saya tak bisa berbuat apa-apa karena sudah lupa siapa yang
bertransaksi di hari atau tanggal sekian.
Saya pikir
pengalaman menjual buku karya sendiri juga dialami oleh banyak penulis lainnya.
Saya tahu, adalah hak setiap manusia untuk mendapatkan bacaan yang bermutu,
hanya saja jangan lupakan juga hak penulis yang mau bersusah payah melakukan
riset, belajar menulis bertahun-tahun, lalu memproses penerbitan bukunya
sendiri dari nol sampai jatuh ke tangan pembaca.
Kalau kita
tidak bisa menghargai buku orang secara intelektual atau pemikiran (dengan
mengulasnya atau mendiskusikannya), setidaknya hargailah jerih payahnya dengan
membeli bukunya—atau sekalian tidak sama sekali tanpa nyeletuk “gratis”—toh,
penulis setidaknya juga butuh uang rokok atau kopi selama proses menulis.
Budaya
membaca itu memang penting, tapi budaya membeli buku jauh lebih penting lagi.
Sebab kalau semakin banyak orang yang membayar pakai “lah, bukannya gratis?”,
mana bisa buku diproduksi? Lalu kalian mau baca apa kalau buku sudah tidak bisa
lagi diproduksi? Daun? (*)
*Pertama kali tayang di mojok.co


0 Komentar