Jatijagat Kampung Puisi, Pulang Pergi ke Jantung Sendiri


 
Nama Jatijagat adalah hasil peleburan dari dua kata, yakni kata “jati” dan kata “jagat”. Jati memiliki makna sebenarnya, sesungguhnya atau sesuatu yang murni. Sedangkan jagat bisa dimaknai sebagai dunia yang luas atau alam semesta raya yang tak terbatas atau meliputi segala sesuatu.

Kampung, bisa bermakna tempat atau suatu daerah, di mana terdapat beberapa rumah atau keluarga yang tinggal di sana. Kampung juga melambangkan kekhasan, kesederhanaan dan keakraban, tempat manusia di dalamnya masih dan terus menjaga nilai-nilai, perilaku, gotong royong, budaya lokal dan keyakinan yang bersifat komunal. Di dalam kampung, manusia selalu mempertahankan tradisi yang berpatokan pada kepentingan bersama dan bersifat ngewongke uwong atau memanusiakan manusia. Pengaplikasian yang sederhana dan sangat nyata adalah membukakan pintu gerbang pada setiap tamu yang datang, dari mana saja dan kapan saja, tanpa sebuah prasangka yang buruk dan tidak menjadikan identitas lain sebagai objek yang harus dicurigai. Kampung juga bisa dimaknai sebagai sebuah kehidupan yang ideal. Dan secara simbolis, kampung adalah jantung kebudayaan dalam kehidupan berbangsa.

Puisi, di sini tidak harus dimaknai secara formal dan teoritis, sebab yang demikian itu hanya akan membuat kita terjebak pada ruang-ruang gersang dan kepentingan politis tertentu. Puisi di sini adalah sebuah nyanyian jiwa yang mampu membangkitkan energi kehidupan sehingga memberi dorongan spiritual pada laku personal, komunal dan kebudayaan. Ketika puisi sudah dimaknai sebagai luapan jiwa, maka setiap orang berhak bernyanyi dan tak ada yang boleh membendung suara-suara itu.

Maka, Jatijagat Kampung Puisi tidak hanya sebagai ruang lingkup dan kotak tertentu yang hanya memiliki satu akses tertutup ketat dan rapat, melainkan wadah yang begitu luas di mana manusia bisa menuju pada inti dan berdiri serta hidup di dalamnya, melalui pintu-pintu longgar delapan penjuru, demi terpenuhinya segala dahaga yang menyengat akibat perjalanan panjang melelahkan yang bernama kebudayaan.

Oase, sesuatu yang niscaya dirindukan oleh para musafir di padang terik dan gersang, dan Jatijagat Kampung Puisi sendiri adalah oase itu. Ada sumber kesegaran di dalamnya yang bisa kita minum bersama tanpa bersenggolan. Dan di Jatijagat Kampung Puisi ini pula kita mampu memelihara, merawat dan terus menjaga budaya kampung yang bersahaja nan berhaluan puisi, di tengah hiruk-pikuk zaman dan budaya hedonisme. Mari kita pulang kampung, pulang ke jantung sendiri!


*Pertama kali terbit di Bali Post, 08 Maret 2015

Posting Komentar

0 Komentar