Kampung,
bisa bermakna tempat atau suatu daerah, di mana terdapat beberapa rumah atau
keluarga yang tinggal di sana. Kampung juga melambangkan kekhasan, kesederhanaan
dan keakraban, tempat manusia di dalamnya masih dan terus menjaga nilai-nilai,
perilaku, gotong royong, budaya lokal dan keyakinan yang bersifat komunal. Di
dalam kampung, manusia selalu mempertahankan tradisi yang berpatokan pada
kepentingan bersama dan bersifat ngewongke
uwong atau memanusiakan manusia. Pengaplikasian yang sederhana dan sangat
nyata adalah membukakan pintu gerbang pada setiap tamu yang datang, dari mana
saja dan kapan saja, tanpa sebuah prasangka yang buruk dan tidak menjadikan
identitas lain sebagai objek yang harus dicurigai. Kampung juga bisa dimaknai
sebagai sebuah kehidupan yang ideal. Dan secara simbolis, kampung adalah
jantung kebudayaan dalam kehidupan berbangsa.
Puisi,
di sini tidak harus dimaknai secara formal dan teoritis, sebab yang demikian
itu hanya akan membuat kita terjebak pada ruang-ruang gersang dan kepentingan
politis tertentu. Puisi di sini adalah sebuah nyanyian jiwa yang mampu
membangkitkan energi kehidupan sehingga memberi dorongan spiritual pada laku
personal, komunal dan kebudayaan. Ketika puisi sudah dimaknai sebagai luapan
jiwa, maka setiap orang berhak bernyanyi dan tak ada yang boleh membendung
suara-suara itu.
Maka,
Jatijagat Kampung Puisi tidak hanya sebagai ruang lingkup dan kotak tertentu yang
hanya memiliki satu akses tertutup ketat dan rapat, melainkan wadah yang begitu
luas di mana manusia bisa menuju pada inti dan berdiri serta hidup di dalamnya,
melalui pintu-pintu longgar delapan penjuru, demi terpenuhinya segala dahaga
yang menyengat akibat perjalanan panjang melelahkan yang bernama kebudayaan.
Oase,
sesuatu yang niscaya dirindukan oleh para musafir di padang terik dan gersang,
dan Jatijagat Kampung Puisi sendiri adalah oase itu. Ada sumber kesegaran di
dalamnya yang bisa kita minum bersama tanpa bersenggolan. Dan di Jatijagat
Kampung Puisi ini pula kita mampu memelihara, merawat dan terus menjaga budaya
kampung yang bersahaja nan berhaluan puisi, di tengah hiruk-pikuk zaman dan
budaya hedonisme. Mari kita pulang kampung, pulang ke jantung sendiri!
*Pertama kali terbit di Bali Post,
08 Maret 2015

0 Komentar