Di tengah dominasi tema
lokal dalam perpuisian Indonesia terkini, Galeh Pramudianto—selanjutnya disebut
Galeh saja—dengan buku terbarunya, Asteroid dari Namamu, hadir
dan mencoba menawarkan sesuatu yang berbeda. Walaupun secara bentuk masih
mengikuti pola penulisan puisi lirik, bentuk yang menjadi arus utama dalam
perpuisian Indonesia, Galeh tidak berasik-maksyuk dengan kosmologi tanah tempat
ia memijak, melain mengeksplorasi tema yang lebih luas, sesuatu yang tak banyak
diangkat oleh para penyair sebelumnya atau segenerasinya.
Dari judul buku ini
tentu kita sudah bisa menebak apa yang dibicarakan atau gagasan yang dibawa
oleh puisi-puisi Galeh, tentang asteroid, tentang kosmos, tentang alam semesta.
Sebuah kehidupan yang jauh sekaligus dekat dengan kita. Tentang kehidupan
makrokosmos. Tentang dunia besar dan gagasan-gagasan yang mungkin tak semua
orang memikirkannya. Ataupun kalau memikirkannya, pun tak sempat membuat
gelisah pikiran dan batinnya.
Sebagaimana umumnya
karya cipta, mustahil seorang pencipta menciptakan sesuatu tanpa melewati
‘proses gelisah’ atas suatu objek ataupun sebuah dunia yang kemudian menarik
minatnya untuk diobservasi sedemikian rupa sehingga kemudian menjadi bahan
untuk menciptakan, merekonstruksi ataupun membongkarnya kembali demi melahirkan
sesuatu yang sesuai dengan menurut pandangannya, menurut versi si pencipta.
Dalam pengantar buku ini
Galeh menuliskan: “Saya lebih menyukai gagasan apa yang disuarakan, dan
kebetulan puisi yang mendapatkan jalan. Bagi saya menulis puisi seperti
berjalan di antara satu dentuman ke dentuman lain. Dari satu ledakan ke ledakan
lain. Dari satu adegan ke adegan lain. Begitu pun seterusnya.”
Dari pernyataan itu kita
bisa membaca bahwa puisi bagi dia adalah sebatas alat untuk menyampaikan apa
yang hendak dibicarakan, tema yang sedang diangkat. Pertaruhan baginya adalah
bukan pada puisi sebagai bentuk melainkan apa isinya atau muatan dalam puisi
itu sendiri. Jika Sutardji dalam kredonya ingin melepaskan kata-kata dari
penghambaan pada makna, Galeh justru sebaliknya; kata-kata dalam puisi mesti
maksimal untuk membangun makna, menjadi kendara untuk membawa gagasan yang ia
tawarkan. Maka di sini menemu titik terang mengapa ia mengangkat tema yang
sepertinya cukup besar dan serius dan mungkin tak ada hubungannya secara khusus
dengan kehidupan kita.
Namun benarkah tak ada
hubungannya dengan kehidupan kita sehari-hari di bumi dan menjadi
irrelevan? Mengutip tulisannya Carl Sagan dalam buku Kosmos,
ini menjadi cukup menarik jika dikaitkan dengan tema yang sedang disuguhkan
oleh Galeh: “Dalam perspektif kosmik, sebagian besar urusan
manusia terlihat tak penting, bahkan remeh. Meskipun demikian, spesies kita ini
muda, penuh rasa ingin tahu, berani dan menjanjikan.”
Jelas, dunia di luar
kehidupan kita di bumi, planet-planet, galaksi, asteroid, nebula, komet, Lubang
Hitam, atau terangkum dengan sebutan kosmos, yang banyak mendapat tempat dalam
puisi-puisi Galeh memang tidak punya peranan konkrit dalam kehidupan kita yang
begitu kecil, bahkan lebih kecil dari sebiji debu jika dilihat dari perspektif
jagat yang demikian raksasa itu.
Namun yang sangat
menarik dari “puisi-puisi kosmos” Galeh adalah mereka membicarakan hal besar
dan dunia yang tak dapat dijangkau, demi menemukan hal-hal kecil dan kehidupan
yang karib dengan kita. Dalam kata lain, antara dunia luar dengan dunia dalam,
kehidupan makrokosmos dengan mikrokosmos dibangun pertautan-pertautan
sedemikian rupa, berpilin sedemikian menegangkan sehingga menjadi suatu
pembicaraan yang saling mengisi, tentang jagat besar-alam semesta dan kehidupan
manusia di bumi serta perasaan-perasaannya yang tampak remeh, sesuatu yang
benar-benar karib dengan diri kita.
Simak misalnya pada satu bait dari puisi Multisemesta: di galaksi yang kolaps diriku-dirimu ditelan singularitas / di mana seluruh hukum fisika meluruh dan runtuh / kita melipat jarak dengan sebuah pertanyaan / di mana waktu berhenti oleh hangatnya ketakpastian. Atau sebuah puisi yang berjudul Kepada Subagio di Angkasa Luar: di lengkung bumi pada ragam atmosfer / kerinduan jelma debar tak bertepi di ruang mistar.
Jika Subagio
Sastrowadoyo dengan puisinya yang se-tema dengan puisi-puisi Galeh, Manusia
Pertama di Luar Angkasa, sebagai antiklimaks dari keingintahuan manusia
atas sesuatu Yang Besar melalui teknologi yang terus dikembangkan sedemikian
canggih, namun dari kemajuan itu hanya mengantarkan sosok manusia pada
kesepian, kekosongan dan ketakbermaknaan sehingga akhirnya hanya mampu
melontarkan ucapan: “berilah aku satu kata puisi daripada seribu rumus ilmu
yang penuh janji,” pada puisi-puisi Galeh rasa keingintahuan manusia mendapat
tempat dan ruang yang sedemikian lengang untuk memulai perabaan-perabaannya
atas Kosmos.
Ilmu pengetahuan sebagai satu-satunya alat paling memungkinkan untuk menjamah sesuatu yang masih terselimut gelap mendapat jalan seperti arak-arakan festival; kecerdasan buatan, roket, big data, superkomputer, algoritma, dll, yang semua demi penyingkapan atas sesuatu yang besar meski muaranya pada suatu yang kecil—namun penting: manusia dan pencariannya atas hidup itu sendiri.
roket akan mengolonisasi
di gugus galaksi / menafsirkan bunyi dan sunyi itu sendiri / atau ternyata kita
selama ini / hidup dalam simulasi superkomputer / seperti ikan meliuk-liuk
dalam kolam / dan kita masih terus mengirim sinyal / ke luar angkasa (Puisi Hibernasi).
Meski mengangkat tema
besar yang sesungguhnya dibutuhkan ilmu khusus (sains) atas tema dalam
puisi-puisi di buku ini, dan menurut pengakuan penyairnya melakukan riset—tidak
hanya menunggal mengandalkan intuisi—saat mencipta puisi, puisi-puisi Galeh
tidak hendak mencari kebenaran atau ingin sejajar dengan ilmuan yang melakukan
penelitan khusus atas alam semesta atau kosmos. Puisi-puisi dalam buku ini adalah
membuat alternatif dan kemungkinan-kemungkinan lain dari studi empiris.
[]
* Tulisan ini pertama
kali tayang di epigram.or.id

0 Komentar