Manusia,
tanpa kesadaran dan penghayatan akan hidup, mustahil ia akan (ter)sadari
tentang batasan hidup itu sendiri; mati. Mati, meski sebagai antitesis dari
hidup dan sebuah tema besar dalam kehidupan, namun tak jarang kita melupakannya.
Tepatnya kita pura-pura abai sebab kesibukan rutinitas, tawaran kenikmatan temporal
yang menggiurkan, dan budaya
hedonistik manusia modern yang semakin dangkal akan nilai-nilai
spiritualitas—yang semestinya hadir mengajak manusia dalam laku kontemplatif. Budaya yang demikian itu
hanya menjadikan manusia sebagai pelaku konsumtif dan jauh akan penyelaman pada lautan
rohani.
Dan
puisi yang sejak mula sebagai suara sayup-sayup sunyi, sebagai buah dari
renungan dan entitas suara kesadaran, tak henti-henti membisiki manusia untuk
memaknai yang terjadi, baik dalam skala mikro-kosmos (jagat kecil diri) maupun
makro-kosmos (jagat yang lebih luas). Jika Subagio Sastrowardoyo menyatakan
puisi sebagai filsafat dalam penjelasan seni, maka bisa dipahami filsafat yang
sering mengajak kita untuk merenung-memahami makna dan hakikat seringkali
bersifat memaksa. Tak
jarang justru yang kita temukan
adalah “kekeringan” di sana-sini.
Sedangkan puisi, ia mempunyai caranya sendiri, menuntun kita untuk merenung
dengan begitu halus, begitu sublim dan sunyi. Itulah nilai tambah bagi puisi
jika kita boleh membandingkannya dengan filsafat.
Puisi,
khususnya pada puisi-puisi yang terangkum dalam buku Doa Bulan untuk Pungguk (AKAR Indonesia, 2016) karya penyair
Nuryana Asmaudi SA, tentu sarat akan renungan, dengan khusuk dan bisik-bisik,
bahkan kadang “nakal” penyair kelahiran 10 Maret 1965 ini mengajak kita untuk
terjun ke wilayah primordialitas kita sebagai manusia. Puisi bertema maut
khususnya, sebagai tema yang cukup menarik dalam buku yang menghimpun seratus
puisi ini. Misalnya dalam puisi “Ketika Sakit Terbayang Maut”
1
maut bilang satu
jam lagi akan datang
menjemputku pulang
dengan kuda kepang
“hore, aku akan
pulang naik kuda kepang
bisa sambil
atraksi makan beling makan padi!”
2
satu jam kemudian tititituit...titituit,
sms
: Sorry Nur aku
gak jadi datang sekarang
kuda kepangnya
dipakai jathilan!
Sekilas,
puisi di atas memang terkesan refleks-spontan dan jail, bahkan dengan ekspresi
meremehkan. Dalam hal ini maut yang oleh sebagian besar orang dianggap
mengerikan, bahkan tabu untuk diperbincangkan apalagi dibuat main-main, justru
Nuryana Asmaudi mengekspresikannya dengan enteng. Tergambar dalam si aku lirik
tersebut yang merasa "kematian begitu akrab". Kehidupan sebagai
kematian yang tertunda telah ia sadari dan penuh persiapan. Ia ingin
cepat-cepat dijemput maut, ada kesenangan bila maut itu datang, hore aku akan pulang naik kuda kepang. Dalam
puisi tersebut memang tidak ada pernyataan eksplisit mengapa si aku lirik
begitu ekspresifnya dengan kedatangan maut, entah sebab saking tidak kuatnya
menahan sakit yang diderita sehingga menganggap maut sebagai tugu perbatasan
rasa sakit, penderitaan di dunia atau memang ada suatu hal yang membuatnya
ingin cepat-cepat ke Sana? kerinduan pada Ilahi, sesegara mungkin ingin
meninggalkan dunia yang fana dan penuh tipuan, atau memang suatu bentuk
kepasrahan (nrimo dalam konsep Jawa)
bahwa suratan badan memang demikian.
Namun
tentu kita bisa membayangkan bagaimana kecewanya si aku ketika tahu bahwa
(malaikat) maut yang ditunggu-tunggu untuk membawanya ke alam Sana ternyata
tidak jadi datang. /Sorry Nur aku gak
jadi datang sekarang/ kuda kepangnya dipakai jathilan!// dan ia mesti
melanjutkan penderitaan badan di dunia.
Tidak
hanya pada maut, puisi-puisi Nuryana Asmaudi yang terangkum dalam buku ini
sebagaimana juga mengekspresikan keakrabannya dengan Tuhan, seperti yang
tergambar dalam puisi “Keloni Aku Tuhan”. /keloni
aku Tuhan/ malam ini dingin sekali. Diksi “keloni” tentu terasa agak ganjil
ketika disandingan dengan “Tuhan”. Tuhan
yang oleh sebagian kalangan, lebih-lebih kaum konservatif digambarkan begitu
sakral dan begitu berjarak (langit?), justru dalam puisi ini Ia sangat dekat
bahkan sebagai “kekasih”—dan mestinya memang demikian. Berangkat dari riwayat
hidup penyairnya sebagai lulusan akidah dan filsafat di pendidikan formalnya
dan juga keakrabannya dengan (teks) tasawwuf, sebagaimana yang tercantum dalam
biodatanya di buku ini, “Sajak-sajak Cinta Rabiah Al Adawiyah dalam
Perkembangan Ide Tasawwuf Islam” sebagai
pilihan untuk skripsinya, tentu saya menjadi memaklumi, sang penyair sudah
tidak asing tentunya dengan redaksi “…dan kami lebih dekat kepadanya daripada
urat lehernya” (QS. Qaaf: 16), berangkat dari titik itulah sebenarnya antara si
aku sebagai mahluk dan Dia sebagai khaliq memang tidak berjarak bahkan tak
saling asing. Meskipun sama sekali liyan
dalam pengekpresian ketiada-jarakan itu
dengan teks-teks puisi pada umunya dalam puisi sufistik. Lihatlah aku telanjang Sayang/ ingin berselimut kasih-Mu//. Telanjang
dalam larik tersebut tentu saja bisa bermakna kepapaan hamba, kehinaan sebab
dosa atau betapa rapunya ia dari berbagai ancaman sehingga tak ada perlindungan
kecuali selimut kasih-Nya. Keloni aku Tuhan!
Senada
dengan puisi yang saya hadirkan di atas, kita juga menemukan tema kematian yang
oleh penyairnya diibaratkan sebagai tamu dan kita mesti meyiapkan diri untuk
menyambutnya:
“mari kencangkan
doa saudara
bergandeng rasa
dengan-Nya
kudengar burung
hantu bersendawa
malaikat maut
berjalan ke arah kita!”
(Keroncong
Perkabungan)
Kita
memang tak bisa mengelak dari mati bahkan untuk menunda barang sebentar pun.
Dalam moralitas agama, sejalan dengan dengan ketetapanNya dalam QS. Yunus:49, “….apabila telah datang ajal mereka, maka
mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula)
mendahulukan(nya).”Kita benar-benar tidak tahu kapan tamu itu sampai di
hadapan kita, tapi seringkali mengetahui tanda-tandanya, kudengar burung hantu bersendawa.Burung hantu dalam banyak tradisi,
apabila telah melengking di malam hari dipercaya sebagai tanda-tanda datangnya
kematian.
***
Dalam
buku Doa Bulan untuk Pungguk yang merangkum seratus puisi ini, cukup beragam
memang tema yang diangkat oleh penyairnya, tidak hanya spesifik pada maut.
Namun cara mengungkapkannya dengan “agak berbisik” itulah maka tak jarang
melahirkan nilai kontemplatif yang sangat mendalam, meskipun tema yang
disodorkan adalah kritik sosial:
“mungkin
sudah jadi suratan bangsamu
dan
bangsaku bermusuhan
tapi
cinta adalah bangsa lain,
kita
tak jemu berjamu kasih
bersulang
sayang di sela desingan peluru dan ledakan”
(Doa Calon Pengantin Israel-Palestina)
***
Dan catatan singkat ini tentu saja sebatas
upaya memahami sebagian kecil dari samudera luas renungan penyair kelahiran
Jepara, Jawa Tengah dan menetap di Bali semenjak tahun 1996 itu. Mengingat Doa Bulan untuk Pungguk adalah buku
pertama dalam waktu
yang sangat panjang bagi kepenyairannya, hampir tiga puluh tahun (berdasarkan
tarikh penciptaannya, puisi paling tua dalam buku ini adalah 1989), tentu bukan
sebuah usaha main-main, tetapi puisi telah menjadi bagian dari jalan hidupnya,
atau bahkan mungkin puisi itu sendiri sebagai jalan hidupnya.
***

0 Komentar