Jika kedatangan bulan puasa selalu
ditandai dengan nongolnya iklan Promag
dari Al
Mukarram Bang Haji Dedi Mizwar, maka tanda-tanda
datangnya hari raya Idulfitri
(akhir-akhir ini) sering ditandai dengan membanjirnya pesan broadcast permintaan maaf, baik di lewat SMS, aplikasi WhatsApp maupun BBM. Bentuk bahasanya pun bermacam-macam,
namun intinya sama saja, meminta maaf—secara massal. Bagaimana tidak, sekali tulis,
dikirimnya ke sekian ratus kawan yang ada di kontak ponselnya. Efektif, efesien
dan semua kebagian!
Satu hal lagi yang tidak kalah
penting dari isi pesan broadcast hari
raya adalah bahasa pengucapannya, biasanya bahasa permintaan maaf yang disertai
busa-busa puisi, dari yang melankolis sampai yang romantis, dari rima berpola bebas, sampai yang berima
terikat ala puisi
jaman Pujangga Baru, yang bukan hanya bikin terenyuh pembacanya, namun juga
bisa untuk didendangkan dengan riang. Barangkali ini yang dinamakan pujangga
tahunan, pujangga menjelang lebaran. Sungguh menjengkelkan mengharukan,
bukan?
Lantas, muncul pertanyaan dalam
benak, tepatkah meminta maaf dalam bentuk pesan broadcast? Di jam-jam mendekati malam lebaran saya seringkali
merasa kewalahan menerimanya. Saya juga sering mengamati BBM seorang kawan yang
selalu memberi peringatan: Anda
broadcast, saya delete!
Saya berkesimpulan dari
peringatan singkat itu, meminta
maaf via pesan broadcast meskipun
bukan sesuatu yang buruk tentu bukan sesuatu yang layak, atau kurang pas. Bukan
mendapatkan ampunan atau maaf dari seseorang, malah membuat jengkel orang lain
karena kring-krang-kring, namun
ketika dibuka isinya tak lebih dari pesan berantai.
Dan rasa-rasanya juga kurang intim dan
istimewa meminta maaf bukan secara pribadi ke pribadi. Jika merasa memiliki
dosa secara personal, toh, alangkah baiknya meminta maaf secara personal pula.
Bukankah secara moral dalam urusan meminta maaf kita dianjurkan untuk
menyertakan kesalahan-kesalahan kita agar orang yang kita mintakan maaf bisa
lebih berlapang dada memberi maaf?
Dengan cara pesan broadcast, tentu poin tersebut akan terlewatkan. Jangankan
menyertakan kesalahan, wong nama yang
dituju pun tak ada alias masih bersifat umum. Bukankah alangkah baiknya pula meminta
maaf ya seperti undangan pernikahan mantan pacar itu, setiap nama yang diundang
disebutkan, tampak jelas nama siapa yang tertera dalam undangan dan tentu ada
perasaan berbeda bagi penerimanya, ada getaran-getarannya begitu, bukan sepintas lalu.
Ribet kan? Tentu Pak Lik!
Teknologi telah memudahkan manusia
dalam berbagai hal, namun teknologi
juga yang seringkali mendangkalkan atau bahkan menghilangkan subtansi tentang
sebuah hal. Ketidaksadaran akan batasan-batasan teknologi itulah yang membuat
kita lupa pada makna dan hakikat sesungguhnya tentang sesuatu, dalam hal ini
tentang permintaan maaf di hari lebaran. Orang
enggan meminta maaf secara tatap muka dan bersentuhan tangan karena
sudah merasa cukup dengan mengirimkan pesan tak berbayar, padahal secara fisik
untuk bertemu masih bisa dijangkau. Orang enggan meminta maaf secara personal
pada daftar kontak di ponsel karena pesan broadcast
masih bisa dilakukan, padahal, toh apa
salahnya kita sedikit bersabar mengirim pesan satu persatu ke setiap kontak dengan
nama jelas yang dituju (tentu ini tak bisa jika dilakukan dengan cara broadcast) dan itu sungguh lebih terhormat.
Saya teringat, dulu waktu kecil di
kampung dan belum ada gadge, ketika
lebaran, bahkan sampai melewati lebaran ke tujuh, orang-orang di kampung
berduyun-duyun, rombongan jalan kaki dari rumah ke rumah hanya untuk
bersalaman, hanya untuk bertemu bertatap muka meminta maaf satu sama lain. Tapi
sekarang? rasa-rasanya budaya demikian itu lambat laun semakin memudar. Ibu-ibu
di rumah, jika tahun-tahun silam menyediakan jajan dua puluh toples untuk tamu
lebaran, kini paling mentok ya sepuluh toples, itu pun hanya untuk keluarga
dekat yang tidak begitu intens dengan “teknologi genggam”. Kalau keluarga agak jauh
dan yang masih muda, ya itu tadi, cukup kirim sms atau broadcast sebagai permintaan maaf. Selesai.
Pesan broadcast, tujuannya tentu untuk memudahkan menyampaikan sesuatu
dalam jangkauan yang besar dari segi jumlah. Ibarat ungkapan, jika bisa
dipermudah mengapa harus dipersulit. Tapi, untuk urusan maaf-bermaafan saya
kira lain lagi. Meminta maaf melalui pesan broadcast
semacam ada keangkuhan tersendiri. Semacam kita menyalakan toa di masjid, lalu
teriak-teriak meminta maaf kepada orang sekampung. [2015]
*Oleh Kim Al Ghozali AM


0 Komentar